Thursday, June 12, 2014

Heboh

Nama Jokowi dan Prabowo kian sering menghiasi media sosial di tanah air. Halaman facebook saya pun kian diramaikan dengan share berita ini itu yang memberikan dukungan pada jagoannya. Sejauh ini saya terhitung tidak banyak bersuara di media sosial. Tidak pernah juga sekalipun saya share berita-berita seputar hal itu di halaman facebook saya.

Apatis? Mungkin saja. Meski saya lebih suka disebut sebagai moderat.

Kalaupun ada dukungan yang cukup kentara, itu pun melalui penilaian saya atas hasil debat presiden pertama, yang menurut saya dimenangkan kubu Jokowi-JK secara telak. Tentu saja itu berdasarkan penilaian pribadi saya. Orang lain boleh saja setuju, boleh juga tidak.... =)

* * *

Piala Dunia akan segera dimulai dalam hitungan jam. Biasanya sih hingar-bingarnya di Indonesia luar biasa dashyat kalau saja dilangsungkan tidak bersamaan dengan Pilpres. 

Tim yang saya dukung kali ini? Hmmm, untuk kali ini sepertinya sih saya pilih Brazil yang akan keluar sebagai juara dunia. Faktor dia sebagai tuan rumah, plus kenyataan bahwa belum pernah ada tim Eropa yang berhasil juara dunia ketika dilangsungkan di benua Amerika membuat Brazil unggulan kuat. Tim Amerika Selatan lainnya: Argentina ataupun Uruguay... sepertinya cukup sulit untuk juara di Brazil, tapi entahlah.

Kalaupun ada tim Eropa yang berpeluang juara, saya menilai hanya Spanyol ataupun Jermanlah yang berprospek cukup kuat. Italia, Inggris, Perancis sepertinya tidak cukup peluang besar melihat skuat yang mereka miliki saat ini tidak cukup wah untuk itu. Biasanya sih saya suka tim Italia. Tapi secara obyektif saja, peluang Italia kali ini tidaklah besar, terlepas dari statusnya sebagai runner-up piala Eropa 2012. 

Bola itu bundar. Siapa yang berani taruhan Yunani bisa juara piala Eropa 2004? Siapa juga yang memperhitungkan Denmark bisa juara Piala Eropa 1992? Siapa tahu saja ada tim yang tidak pernah diduga-duga dan disangka-sangka tahu2 muncul di final piala dunia. Ya, kita nikmati saja....

Sunday, May 25, 2014

Mendidik

Saya mengamati dari ruang kerja saya, ada orang tua murid yang sedang sibuk berbincang dengan kolega saya, yang tidak lain adalah sang guru les dari anaknya. Perbincangan yang intensif, yang intinya menanyakan " Bagaimana mungkin anak saya punya nilai sedemikian buruk? "

Dalam pemikiran sang orang tua, anaknya tidaklah mungkin bersalah dalam studinya yang bisa disebut kurang behasil itu. Maka diperlukanlah pencarian kambing hitam dari pihak luar. Dan pihak pertama yang mendapat serangan itu tak lain dan tak bukan adalah sang guru les. Yang sesungguhnya dibayar hanya seminggu sekali untuk membantu sang anak dalam studi. Well.... adilkah?

Peristiwa di atas mungkin hanya sebuah contoh

Namun melihat trend yang terjadi pada kebanyakan orang tua saat ini, jujur sesungguhnya saya agak merasa risih, prihatin, sekaligus khawatir. Ketika orang tua tidak mendidik anak untuk menghadapi masalahnya sendiri, bagaimana mungkin ia mempersiapkan sang anak pada makna kehidupan yang sesungguhnya? Yang penuh dengan tantangan dan kesulitan disana-sini?

Dan jika trend semacam ini terus berlanjut, generasi seperti apakah yang ingin kita lahirkan kelak?

Terlalu sering orang tua zaman sekarang memberikan perlindungan yang ekstra dan terkesan berlebihan kepada sang anak, menyelesaikan masalah-masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab si anak untuk menyelesaikannya. Melarang anak-anaknya untuk ini dan itu. Yang justru pada akhirnya menghalangi kemampuan sang anak untuk berkembang. Baik secara kemampuan maupun secara psikologis.

Mengapa vaksinasi dan imunisasi bisa efektif? Karena ada bakteri/virus yang dilemahkan disuntikkan ke dalam tubuh. Tubuh bisa menang dan menghasilkan antibodi terhadap virus bersangkutan. Bagaimana mungkin kamu bisa kebal terhadap virus tertentu jika kamu tidak pernah menghadapi si virus itu?

Saya pribadi sebenarnya berpikiran
" Janganlah ambil kesulitan dari anakmu. Biarlah ia berusaha menyelesaikan masalahnya. Berikanlah bantuan yang secukupnya ketika ia memang benar-benar membutuhkannya"

" Didiklah ia untuk bertanggung jawab. Termasuk untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang ia buat "

Saya mengalami banyak peristiwa hidup, yang membuat saya untuk terus ingin menjunjung tinggi kejujuran dan integritas. Dan nilai-nilai itulah yang kelak ingin saya tanamkan pada anak-anak saya. Kelak.

Thursday, May 8, 2014

Terus Belajar

Proses pembelajaran itu tidak seharusnya berhenti seiring dengan bertambahnya pengalamanmu. Ketika kamu berhenti belajar, maka saat itulah kamu berhenti berkembang... =)

Ketika saya memulai perjalanan saya memberikan les pelajaran untuk anak-anak sekolah menengah, saya tidak pernah mengira bahwa saya akan sampai pada tahapan sejauh ini. Saya tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah menengah di Singapura. Saya tidak tahu sistem pendidikan disini. Saya tidak tahu kurikulum seperti apa yang diajarkan disini. Saya memulai segalanya dari nol. Sepenuhnya nol. Memang saya mengenyam kuliah di sini. Tapi tetap saja pendekatan pendidikan antara sekolah menengah dan level universitas itu.... berbeda.

Semua dimulai di awal tahun 2009, ketika saya mulai mengambil murid pertama saya. Karena berawal dari keisengan, saya tidak berharap banyak. Sebenarnya saya hanya ingin mengajar matematika saja. Dan mungkin kalau diperlukan, sedikit tentang fisika. Tak mau yang lain. Karena toh apa yang saya pelajari dulu dengan materi yang saya ajarkan itu berbeda. Ada knowledge gap disana.

Sesuatu mulai berubah ketika saya mulai bekerja part time di sebuah tempat bimbel. Dan mungkin karena "tuntutan" lingkungan disitulah akhirnya saya bisa mulai berkembang. Perusahaan tempat saya bekerja part time sangat kekurangan guru pengajar. Jadilah saya perlahan mulai mengajar semua pelajaran matematika dan sains. Komplit math fisika kimia biologi. Sulit? Tentu saja. Tidak pernah mudah untuk memulai sesuatu dari awal.

Dan ketika saya mulai bekerja full-time di tempat lain pun, kondisi serupa menempa saya. Secara tidak langsung membuat saya semakin familiar dengan semua materi secondary school disini.

Berpindah ke lingkungan kerja yang baru tidak berarti sebuah kenyamanan sepenuhnya bagi saya. Karena kini saya pun mendapat tantangan lebih. Nyaman dengan secondary saya pun "mencicipi" mengajar materi JC. Dengan alasan serupa, kekurangan guru pengajar. Well...

Saya sempat berpikir, seandainya saja saya menolak semua tantangan yang datang pada diri saya, mungkin saja saya tidak bisa berkembang sampai sejauh ini. Satu hal positif (atau mungkin negatif) yang mungkin ada pada diri saya itu, saya kadang agak kelewat nekad.... dan tidak suka menolak tantangan. Kalaupun gagal, saya tidak terlalu banyak menghiraukannya. Gagal itu biasa kok.

Sepanjang tahun demi tahun, banyak sekali guru lain di sekitar saya yang saya lihat berhenti berkembang, karena mereka berpikir, mereka tidak bisa mengajar subject itu, tidak bisa melaju sampai ke level lebih jauh... dan akhirnya memilih untuk berhenti pada zona nyamannya. Sudah selesai.

Namun bagi saya, perjalanan itu belum selesai. Dan mungkin tidak akan pernah selesai. Ilmu itu terus berkembang dan pembelajaran itu akan terus berlanjut. Dan saya bahagia karena orang-orang di sekitar saya membuat saya bisa berkembang. Begitu banyak orang lain di sekitar saya yang jauh lebih berpengalaman dalam bidang mereka. Dan saya cukup bahagia... karenanya.

Ketika nanti tak banyak lagi yang bisa saya kembangkan disini, mungkin saatnya bagi saya akan melompat ke tempat tantangan yang baru. Mencoba memutar roda hidup yang lebih menarik.

Kelak. Entah kapan.

Tuesday, April 29, 2014

Aneka Respon terhadap Undangan Pernikahan

Dari teman-teman di Singapura:
- Waaah congratulations
- Wah makin banyak yang uda bagi2 undangan aja nih (gw kok masih jomblo ya)
- Wah akhirnya Her.... (Whatever it means)
- Kamu uda selesai PhDnya? (>_<)
- Loh kamu bukannya sudah menikah? (>_<)

Dari teman-teman SMP:
- Akhirnya ga jauh-jauh juga ya
- Wah asik, bisa sekalian reuni nih.

Dari guru-guru SMP:
- Sepertinya kalian ga keliatan dekat dulu.
- Loh kok kamu kok bisa sama dia Her? Bukannya sama si itu? (>_<)

Saya bukan figur yang tenar-tenar banget. Makanya ketika foto kami dilike sampe ratusan kali, tentunya ya agak gimana gitu. :p

Friday, April 25, 2014

Harga Sebuah Janji

Mungkin saya cuma sedikit orang yang menilai terlalu tinggi harga sebuah janji. Apalah memang arti sebuah kata? Bagi saya, kata-kata itu berharga. Karena dalam kata-katalah tersirat nilai-nilai yang dianut seseorang.

Saya menghargai apa yang saya katakan. Ketika saya mengatakan akan melakukan hal ini, maka saya akan benar-benar melakukannya kecuali memang ada satu hal yang sangat tidak terduga yang membuat saya terpaksa membatalkannya. Dan pastinya, saya akan merasa bersalah. Membatalkan sebuah janji adalah sesuatu yang tidak saya sukai. Dengan siapapun itu. Sesederhana apapun janji itu.

Saya tidak akan menjanjikan sesuatu yang saya tahu tidak mampu saya lakukan. Saya belajar bahwa menepati janji, sekecil apapun itu, adalah sebuah hal yang bisa membangun reputasi di mata orang lain. Bagaimana orang lain bisa menghargai perkataanmu jika kamu sendiri menganggapnya angin lalu? Bagaimana kamu mengharapkan orang lain mempercayai kata-katamu jika kamu sendiri bahkan tidak menganggap kata-katamu itu penting?

Saya teringat ketika saya dan seorang rekan senior ketika memberikan pelatihan di sebuah sekolah menengah. Saat itu kami akan memberikan waktu istirahat bagi para anak-anak. Daripada memberikan batas waktu yang strict untuk mereka, sang teman saya itu menanyakan pada mereka, berapa lama waktu istirahat yang kalian perlukan. Ada yang meminta 5 menit, ada yang meminta 10 menit ada juga yang meminta 15 menit. Akhirnya sang trainer pun memutuskan.... baiklah apakah 15 menit cukup untuk kalian semua? Mereka menjawab serentak ya.

Dan kata-kata berikutnyalah yang berkesan bagi saya

" Oke, kalianlah yang menjanjikan bahwa waktu istirahat kalian 15 menit. Itu artinya dalam 15 menit kalian akan kembali ke ruangan ini. Kalian yang menentukan waktu itu sendiri. Jadi hormatilah kata-kata kalian."

Janji sederhana. Namun punya makna yang besar bagi saya. Kalau kamu tidak bisa menghargai apa yang kamu katakan. Berjanji istirahat 5 menit namun ternyata ngaret. Janji datang jam sekian tapi ngaret satu jam, bagaimana mungkin orang bisa percaya kepadamu?

* * *

Saya pernah berada dalam sebuah pekerjaan saya di lab, dimana saya diminta untuk berjanji untuk datang jam sekian setiap paginya untuk memulai pekerjaan. Dan saya pun memilih untuk menolak berjanji. Kenapa?

Karena dalam pandangan saya, pekerjaan riset bukanlah pekerjaan kantoran yang mengutamakan rutinitas. Ia perlu kreativitas. Apalah artinya kamu datang sedemikian pagi namun kamu tidak bisa melakukan pekerjaanmu karena semua orang ingin memakai setup lab yang bersamaan? Itu bukanlah sesuatu yang efektif. Kenapa saya harus menjanjikan sesuatu yang merupakan ketidaknyamanan bagi diri saya? Yang saya janjikan adalah hasil kerja yang lebih efektif, terlepas dari jam kerjanya; dan memang itulah yang saya lakukan. Dan saya menepatinya.

Ketika saya berada pada pekerjaan yang menuntut saya mengajar kelas, maka saya pun berjanji untuk senantiasa tepat dengan waktu. Dan itulah yang saya lakukan. Saya menghargai perkataan saya. Saya menghargai apa yang saya janjikan. Pada diri saya sendiri, dan juga kepada orang lain.

* * *

Membuat janji yang fantastis tidak akan membuatmu terlihat hebat. Menepati janji yang telah kamu buatlah yang akan terlebih menjadikan kamu orang yang hebat.

Janganlah terkesima dengan kata-kata hebat. Janganlah terkesima dengan karisma yang kuat. Jika kamu ingin menilai kualitas hidup seseorang, nilailah ia dari karakternya, nilailah dia dari kesesuaian antara perkataan dan juga perbuatannya. Semakin keduanya berjalan beriringan, semakin tinggilah nilai integritas dari orang tersebut.

Track Record

When you interview people, don't ask him too many "if question". If this happen, what will you do? If that happen, what is your suggested solution? Smart people will easily nail those type of questions and give you perfect answer. Ask him, what he has done in the past, how he faced and overcome challenges, and how all those experiences can be relevant for him to make future contribution.

I always remember this message from my dad. Measure value of a person not from what he will do, but from what he has done. For what will be done is not confirmed; but what has been done is confirmed. It's relatively easy to make promises. It's also relatively easy to create a future plan, and even vision and mission. But it's never been easy to create a track record. Especially a track record of character.

(Sudibya HG, 2014)

Friday, April 11, 2014

Menjadi Problem Solver

“ Itu sulit.”
“ Saingannya terlalu berat. “
“ Kamu tidak cukup mampu untuk itu. “
“ Kamu pasti gagal “

Seandainya saja sejak dulu saya selalu mendengarkan orang-orang lain yang berpikiran bahwa sesuatu itu tidak mungkin, mungkin saya sudah terus-terusan gagal dalam hidup saya. Hidup begitu-begitu saja. Biasa saja. Tidak ada yang istimewa.

Ketika saya masih anak-anak, saya orang yang terhitung lambat dalam berbicara, tak pandai bergaul, dan lemah dalam matematika dasar. Terbukti dari nilai rapor saya semasa TK yang dijejali dengan nilai C dan K. Jika saja kelas TK itu bisa tinggal kelas, mungkin saya salah satu yang akan mengalaminya.

Tidak ada yang pernah mengira bahwa anak yang satu ini pada akhirnya bisa memperoleh gelar S3 pada usia yang relatively muda, 24 tahun. Saya jenius? Sepertinya tidak. IQ saya memang sedikit di atas rata-rata tapi tidak sampai berada pada level sangat cerdas, apalagi jenius.

Kalaupun ada keberuntungan yang menaungi kehidupan saya, itu adalah keberadaan orang tua saya yang menanamkan nilai-nilai dan semangat juang sejak saya kecil. Saya diajar untuk memilih tidak terlalu mempercayai hal-hal negatif yang dikatakan orang lain terhadap diri saya. Memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Memilih untuk menghadapi tantangan, seberapa sulitnya itu. Dan perlahan saya mengerti. Itu memang benar adanya.

***

Sebenarnya sangat wajar bahwa setiap manusia ingin berada dalam zona nyaman. Sangat wajar bahwa setiap manusia memiliki ketakutan untuk sesuatu yang baru, yang penuh ketidakpastian. Sangat wajar untuk berada dalam tekanan untuk mengalami sebuah perubahan. Yang jadi masalah adalah, dalam kondisi demikian, apakah kamu memilih untuk menghadapi atau menghindarinya?

Saya tertarik dengan teori yang dikemukakan oleh Arnold Toynbee tentang Challenge and Response. Bahwasannya perubahan dalam kehidupan manusia itu muncul karena keharusan mereka menghadapi kesulitan. Dan pada akhirnya, memang kesulitan-kesulitan itulah yang menjadikan manusia lebih kuat.

Robert Kiyosaki di sisi lain memberikan ilustrasi dalam hal investasi dan keuangan. Seperti seorang ahli matematika yang baru akan menjadi hebat dengan berlatih mengerjakan soal-soal matematika, bukan dengan mengamati orang lain mengerjakan soal matematika untuknya, demikian juga bahwa kamu akan bisa mengatasi masalah-masalah keuangan dengan mengisi otakmu dengan pengetahuan-pengetahuan tentang investasi dan keuangan. Bukan dengan menyerahkan uangmu untuk dikelola oleh orang lain yang menamakan diri mereka “expertise”.

Kesemuanya itu bermuara pada satu kesimpulan. Bahwa pada akhirnya dalam hal apapun itu; kamu menjadi kuat ketika kamu memecahkan masalah, bukan dengan menghindarinya. Hadapilah masalahmu, dan kamu akan menjadi lebih kuat karenanya.

* * *

Hidup ini keras, penuh dengan intrik, dan juga masalah. Karena itulah orang yang dibutuhkan dalam masyarakat adalah orang yang mampu memecahkan masalah. Tapi bagaimana mungkin kamu bisa mahir memecahkan masalah jika kamu senantiasa menghindarinya?

Izinkan dirimu menghadapi masalahmu. Janganlah takut membuat kesalahan, apalagi menghadapi kekalahan. Jangan takut untuk gagal. Karena itu semua adalah bagian dari proses untuk berkembang.

Pertanyaannya bukan mampukah kamu menjadi pemecah masalah? Tapi maukah kamu untuk terus belajar? Maukah kamu untuk tidak menyerah?

Hanya kamu sendiri yang tahu jawabannya.


Putuskanlah, sebelum semuanya terlambat.