Sunday, August 23, 2015

Tentang Harapan dan Kenyataan

Mengapa manusia kecewa? Sebenarnya alasannya sederhana. Ketika kenyataan berada di bawah harapan dan keinginan, maka kita akan kecewa. 

Jika kamu berharap memperoleh nilai A+, tapi ternyata kamu mendapat A-, kamu akan kecewa. Jika kamu berharap sekedar lulus sebuah mata kuliah, dan tiba-tiba kamu lulus dan nilaimu B, kamu merasa sangat bahagia. Tentu saja nilai B berada di bawah nilai A-, tapi dalam hal ini si pemilik nilai B lebih berbahagia dibanding sang pemilik nilai A-. 

Karena nilai B yang diperoleh berada di atas harapan, sedangkan nilai A- berada di bawah harapan.

Harapan dan kenyataan...

Seringkali, kita berharap tinggi dari orang-orang terdekat kita. Dan ketika hal itu tidak tercapai, maka kita menjadi kecewa.

Kita berharap mereka memberi kita perhatian khusus. Kita berharap mereka senantiasa ada di saat kita memerlukan. Kita berharap mereka tidak akan menyakiti kita. Kita berharap banyak hal dari mereka. Dan tanpa kita sadari, terlalu banyak.

Kita lupa bahwa mereka juga hanya manusia biasa yang sama seperti kita. Yang bisa kecewa dan dikecewakan. Kita lupa bahwa di saat bersamaan, mereka mungkin berharap banyak dari kita, dan kita tidak bisa memenuhinya.

Seringkali kita lupa untuk bersyukur untuk orang-orang yang kita miliki di sekitar kita. Kita fokus tentang apa yang kurang dan apa yang tidak begitu baik. Mereka begitu biasa berada dalam kehidupan kita. Sampai-sampai kita lupa untuk mengatakan maaf ataupun terima kasih. 

* * *

Mengapa kita kecewa? Karena kita berharap. Dan ternyata, harapan itu patah di tengah jalan. Berbeda dengan kenyataan yang kita mau. Disadari atau tidak, kita adalah manusia biasa. Harapan itu akan selalu ada. 

Mengapa ada orang yang tidak bahagia di tempat kerja meskipun sebenarnya posisinya tinggi dan dihormati? Mengapa ada orang yang bisa begitu bahagia dengan sekedar memiliki pekerjaan, meskipun pekerjaan itu tidaklah lebih baik ataupun bergaji rendah?

Disadari atau tidak, seringkali kebahagian itu tidak sekedar berbanding lurus dengan hasil, ataupun pencapaian, ataupun prestasi. Kebahagiaan dan kepuasan batin lebih sering ditentukan oleh seberapa jauh kenyataan yang ada dibandingkan dengan harapan. 

Milikilah standar yang sederhana untuk membuat kamu bahagia. Jangan gantung terlalu tinggi harapanmu sampai-sampai kamu kepayahan untuk mencapainya. Dan kamupun kehilangan kebahagiaanmu.

Bersyukurlah untuk setiap hal-hal kecil yang terjadi setiap hari. Niscaya kamu akan lebih mudah untuk merasa bahagia. Setiap hari. =)

Wednesday, August 19, 2015

Menguak Masa Lalu, Mengintip Masa Depan

Saya tidak pernah menyangka bahwa saya masih akan memerlukan file itu lagi. File thesis masa PhD saya. Empat tahun berlalu dan saya sudah cukup berbahagia berada di dunia pendidikan, saya sempat mengira bahwa segala pengalaman riset di masa lalu itu akan cukup sebagai sebuah pembelajaran yang tidak ada sangkut pautnya dengan masa depan saya lagi.

Tapi terkadang hidup itu memang penuh kejutan. Sebuah percakapan dengan teman lama sedikit membangkitkan "nostalgia" saya pada dunia penelitian. Dan memungkinkan saya untuk "comeback" ke dunia penelitian ilmiah.

Sebenarnya sejak dulu saya tidak pernah benar-benar bermasalah dengan yang namanya penelitian. Yang saya sesalkan dan kecewakan hanyalah penelitian yang kurang memiliki makna. Penelitian yang hanya demi mengejar publikasi ilmiah yang entah apa manfaatnya untuk orang kebanyakan.

Kalau cuma untuk keren-kerenan, untuk apa? Bukankah lebih baik saya membantu anak-anak sekolahan mempersiapkan ujian mereka? Berinteraksi dengan mereka dan memberikan sedikit senyuman ketika mereka menyadari, bahwasannya soal ujian yang mereka hadapi tidaklah sesulit yang mereka bayangkan. Bercakap-cakap dengan mereka yang masih galau menentukan jurusan dan masa depan kuliah, lalu bisa memberikan sedikit pencerahan. Meskipun tidak terdengar keren, paling tidak bagi saya hal itu bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Saya tidak terlalu peduli dengan status "guru les" meski banyak orang menyangsikan pekerjaan yang saya jalani.
" Emang cukup ya Her penghasilan cuma jadi guru les?"
" Ga sayang sama gelar PhDnya?"

Dan apapun pertanyaan serupa lainnya.

Mungkin mereka belum tahu kalau penghasilan guru les itu bisa jauh lebih besar daripada pekerjaan lain yang kedengeran lebih keren. Dan mungkin mereka belum tahu bahwa akan lebih sayang lagi kalau pengetahuan yang saya miliki hanya dipendam untuk penelitian yang minim manfaat.

Saya tidak sekedar mencari uang. Saya mencari makna dan manfaat dari pekerjaan yang saya lakukan. Yang tentu saja mesti paling tidak, mesti memenuhi kebutuhan dasar secara finansial.

"Comeback" itu sebenarnya tidaklah pasti. Tapi peluang itu terbuka. Jikapun memang saya tidak punya kesempatan untuk kembali riset, saya juga tidak keberatan melanjutkan karir dalam dunia pendidikan. Semua hal akan baik-baik saja.

You never know what gonna happen in the future. Saya hanya tidak ingin saya terjebak dalam sebuah kenyamanan yang terlalu dalam sehingga saya tidak perlu melakukan hal-hal baru lagi. Belum lama ini saya mencoba mengajar mata pelajaran kuliah dan berjalan lumayan sukses. Mungkin tiba saatnya untuk menemukan tantangan-tantangan baru lainnya.

Karena hidup itu terlalu singkat jika hanya dilalui untuk hal-hal yang monoton.

Semoga.

Sunday, August 16, 2015

Tentang Kesederhaaan

Kesederhanaan dan kekayaan sepertinya memang terkait erat, tapi sesungguhnya mereka adalah dua hal berbeda. Kekayaan berkaitan dengan jumlah materi yang dimiliki, sementara kesederhanaan berkaitan dengan gaya hidup.

Kamu mungkin saja kaya, namun kamu tetap memilih untuk hidup sederhana. Atau sebaliknya, kamu mungkin saja tidak seberapa kaya, namun kamu memilih untuk hidup secara mewah. Pada akhirnya gaya hidup toh adalah sebuah pilihan.

Saya belajar dari kedua orang tua saya dan juga dalam kehidupan bersama dengan istri saya, bahwa hidup sederhana itu sebenarnya menyenangkan. Kami tidak merasa perlu untuk senantiasa update dengan gadget teknologi terbaru, atau pakaian dan tas dengan merk yang wah, atau kemewahan yang sejenisnya. Sejauh barang-barang kami bisa berfungsi dengan baik, awet, dan tidak gampang rusak, rasanya itu sudah cukup. Kami sesekali menggunakan uang kami untuk hal-hal yang menyenangkan, atau sedikit berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Rasanya seperti itu sudah cukup.

Saya percaya bahwa nilai dan kualitas hidup tidaklah bergantung dari barang-barang yang kita miliki, tapi dari bagaimana kita memberikan pengaruh bagi lingkungan di sekitar kita. Aura apakah yang kita bawa? Menyenangkan atau malah mengerikan? Apakah kita membuat orang lain tersenyum atau merengut?

Pada akhirnya saya percaya bahwa kebahagiaan ditentukan oleh bagaiaman kita hidup secara sederhana dan bagaimana kita menyederhanakan hidup.... =)

Saturday, July 18, 2015

Being Rich

Throughout the years, I have learnt that

Being rich is not about....
how much money you have, how high your style of living, how luxurious your vehicle is. It is not about getting all what you want, doing whatever you desire or travelling wherever you like.

Being rich is about...
how you show care to others
how you make people smile
how you touch other people's heart
how you give to people who need it more than you
how you can  feel content about yourself and not to worry about future

Being rich is more about who you have, not what you have, in your life

Wednesday, July 8, 2015

Wishlist Checkpoint

Lebih dari setengah tahun berlalu. Mengintip kembali wishlist di awal tahun, hmmm lumayan. Ga sepenuhnya terealisasi sih tapi tidak juga terlalu buruk. Update sementara per Juli 2015...

  • Meet inspiring people... =)
  •       Sejauh ini belumketemu orang-orang penting. Hidup masih berjalan biasa-biasa saja tanpa
          kejutan dalam hal yang satu ini.

  • Reduce body weight to ideal (around 70 kg)
  •       Lumayan berhasil. Banyak yang bilang saya agak kurusan. Mungkin karena memang saya jadi
          agak sering jalan pagi ke kantor istri saya. PP sekitar 20-30 menit. Lumayan.

  • More healthy lifestyle. Sleep earlier and start a day earlier
  •       Oke lah. Lumayan sukses. Apalagi sang istri semakin giat melancarkan "paksaan" ke saya untuk
          tidur lebih awal dan tidak terlalu giat bekerja sampai larut malam. Bangun pun jadi lebih pagi dari
          biasanya.

  • Do sport once a week to keep my body energetic
  •       Nah ini bukan cuma once a week. Bisa lebih rasanya. Meski bukan olahraga keras.

  • Contribute to volunteering activities
  •       Belum kesampaian. Yang ada malah dapet kerjaan part time mengajar murid level diploma.
          Pengalaman baru, yang alhasil jadi lumayan menyita waktu untuk hal-hal lainnya. Volunteering
          activities belum kesampaian deh.

  • Get Singapore PR status for wife
  •       Berhasil. Tertanggal pertengahan Juni, surat approval sudah diterima. Yeay.

  • Able to teach JC syllabus better than before
  •       Lumayan berhasil. Nyatanya kini saya memang memiliki proporsi murid JC yang semakin
          bertambah dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang harusnya akan berbanding
          proporsional dengan bonus akhir tahun kelak.

  • Reduce Facebook. Write and read more useful articles
  •      Ga terlalu sukses rasanya. Memang sih saya menulis beberapa artikel, tapi facebooknya tetep jalan
         terus. :p

  • Want to own property in Singapore...=)
  •       Gagal total. Sepertinya impian yang ini harus dikubur dulu untuk tahun ini, karena toh kami akan
          perlu biaya lain yang cukup besar di akhir tahun kelak. Yupz, tak lain tak bukan tentu saja biaya
          kelahiran anak pertama kami. =D

    Sekian update dari saya. Doakan saja semoga hal-hal lain bisa kesampaian dalam waktu yang sesingkat-singkatnya....

    Monday, June 8, 2015

    Sebuah Kehidupan yang Berubah

    Saya bekerja di kantor lebih sebentar, on time, teng go, demi bisa lekas bergegas pulang. Terkadang pun saya mengambil cuti separuh hari.

    Hari-hari saya di kantor menjadi lebih pendek, namun saya tetap menjalani hari-hari yang melelahkan.

    Bukan. Ini bukan masalah motivasi kerja yang menurun. Saya menjalani pekerjaan saya dengan biasa-biasa saja. Bukan dengan kegalauan, bukan pula dengan semangat tinggi. Yah bagaimana bisa bersemangat tinggi jika energi pun jadi pas-pasan.

    Sejak kami mengetahui hal itu. Ya, sejak hari itu kira-kira sebulan yang lalu. Ketika istri saya menunjukkan sesuatu pada saya di suatu pagi.... di hari itu.

    Semenjak hari itu semuanya berubah. Ia sering kelelahan. Kata orang itu sudah sewajarnya. Kondisi fisik yang menurun, dan juga emosional yang terkuras. Dan hal ini tidak hanya melelahkan bagi dia yang menjalaninya. Tapi juga bagi orang yang berada di sampingnya. Yaitu saya.

    Seketika, saya pun jadi banyak ikut serta dalam pekerjaan rumah tangga. Saya turut serta pergi ke kantornya mengantarkannya bekerja. Kebetulan memang saya biasanya masuk kerja lebih siang.

    Dan kini, tinggal waktu bagi kami menunggu hari itu tiba. Hari kebahagiaan itu....


    HgS
    ~ a father to be~ =)

    Sunday, May 24, 2015

    Q&A to Me as an Educator

    1. As a teacher, how certain you are in improving student's performance?

    Improvement of result always work both way, depends on the students and also the teacher. I can never guarantee result and I will never do that. I think all teachers who is honest enough, will also say the same thing. Even for a very good and consistent student, an unexpected circumstances may still happen on the exam day, i.e: students fall sick, students eat wrong food just before exam, calculator doesn't work or various technical problems may happen during exam day. It's too risky to guarantee performance while so many variables involved.

    What I can tell and confirm is my track record. With 6 years experience and teaching more than 400 tuition students to date, I can confidently say that 90% of my students, whenever they have shown some effort in their study, definitely show grade improvement. What I do is to help them to simplify the concept, and pin point what is commonly tested and how they are graded in the school examination.

    So why only 90% and not 100%? What happen to the remaining 10%? Well, they are normally those who really no motivation and don't really want to help themselves. Then it will be very hard for me, and I believe for any teacher to help also. There is no miracle in learning.


    2. Is it true that 2 months or 3 months is "too rush" to prepare major examination like PSLE, O Level and A Level?

    There is no standard duration of how long a preparation should be done before any major examination. The longer it is normally the better because you can take a breathe and slowly absorb and understand the concept. And you still have buffer time in case you have difficulties in understanding some topics.

    I had experience of a student who try to study "everything" one month before exam and still receive excellent result, but of course he needs to do that in more painful way. It's possible, but more risky and it is not recommended. You never know how fast and how good your brain can absorb, so don't play around and force to strecth it up to the limit.

    And it's nature that humans quickly absorb will quickly forget also. Even if you can "survive" at this moment, it may be a long struggling in higher level of your study.


    3. Is continuous learning is important to maintain the result?

    Only commercial teacher would say that and recommend some so called holiday program even after end of year examination. For the sake of maintaining the standard.

    Personally I believe in the concepts of work hard and play hard. Although more students during holiday means more income for me, I do believe that the body of my students need rest, so do their brains. I like to recommend people to have a life with balance. Do your hobby and something you like. Holiday period, after final exam, is a time for you to relax and have fun.

    If you really perform very badly and you need to revise some of the lesson you don't understand at all, of course you can do seek a help. But please, do it as minimum as possible so you can still give yourself time to relax and rest. In the end, remember that life is not only about school and study. And your happiness does not necessarily depends on your school grade.... =)