Tuesday, January 27, 2015

Nomaden

Satu keadaan yang harus saya terima saat ini adalah... nomaden. Hidup berpindah-pindah. Sungguh bukan sebuah hal yang mudah untuk packing dan unpacking barang. Lagi. 

Berhubung Singapura menerapkan aturan baru bahwa untuk kasus PR, hanya suami istri yang sudah PR selama 3 tahunlah yang boleh membeli HDB, maka kalangan kelas menengah seperti kami lah yang akhirnya terkena dampaknya secara maksimum. 

Memang benar, membeli private property bisa menjadi sebuah pilihan. Sayangnya opsi itu belum mungkin untuk diambil untuk saat ini. Kalaupun memang kami mau memaksakan diri membeli, yang bisa kami dapatkan hanyalah sepetak condo satu bedroom atau studio saja. Tak usahlah berpikir untuk mencari landed property... =(

* * *

Sampai sejauh ini saya masih berpikir untuk pulang ke tanah air, pada jangka waktu yang belum ditentukan. Sekalipun boss yang menanyakan, saya pun terang-terangan saja menjawab, suatu hari kelak saya masih ingin pulang ke tanah air. Entah kapan. Karena saya pun tidak tahu.

Terlalu nasionalis? Tidak juga. Mungkin ini adalah pilihan yang terbilang ekonomis. Biar bagaimanapun, negeri mungil ini adalah salah satu tempat dengan living cost tertinggi di dunia yang mana kalau kamu tidak bekerja itu artinya tabunganmu akan menyusut dengan laju yang kencang.

Keinginan untuk memiliki rumah permanen memang senantiasa ada dalam pikiran saya. Tapi yaaah biarlah saat ini kami bertahan dengan kondisi yang harus kami jalani. Suatu hari kelak mungkin kami bisa mengingat masa-masa nomaden ini, sebagai sebuah keadaan yang menarik dalam hidup kami.

Saturday, January 24, 2015

Tentang Memilih Jurusan Kuliah

Sudah sekitar 7 tahun semenjak saya meninggalkan bangku kuliah S1 saya. Lama ya? Lumayan. :p

Berhubung saat ini saya berkecimpung di dalam dunia pendidikan, tidak jarang saya dimintai pendapat, saran, ataupun gambaran oleh orang tua murid maupun anak-anak sekolah menengah, "Kak, jurusan apa ya yang sebaiknya saya atau anak saya ambil?"

Hmm, jujur saja bagi saya itu pertanyaan yang sulit. Terlalu sulit untuk dijawab. Oleh saya aja sulit, apalagi oleh anak2 sekolah menengah yang baru mengenal pendidikan yang bisa dibilang cukup mendasar. Dan saya mengerti sepenuhnya kegalauan yang ada di dalam hati mereka. Kebingungan. Dan juga kebimbangan. Karena memang seperti itu jugalah perasaan yang saya alami dulu.

Iya, gimana-gimana saya kan juga pernah SMA. :p

Masih teringat jelas dalam ingatan saya, ketika seorang bocah SMA lugu polos tanpa tahu banyak hal, akhirnya memilih jurusan teknik kimia, bioteknologi, kedokteran, akuntansi, dan teknik umum sebagai pilihan jurusan. Di aneka universitas pula. Anak itu memang memperoleh nilai akademik yang lumayan baik di sekolah menengah yang memungkinkan dia memasuki mayoritas jurusan yang dia inginkan. Tapi masalahnya dia tidak benar-benar tahu apa yang saya inginkan. Dan dia tidak punya gambaran tentang jurusan yang akan ia masuki kelak.

Ya, bocah itu adalah saya.

* * *

Tahun demi tahun berlalu, apalagi setelah saya menjadi pengajar, banyak sekali pertanyaan yang mampir ke diri saya... seputar tentang kegalauan tentang jurusan apa yang sebaiknya diambil.

Pertanyaan mereka kalau dirangkum ya kira-kira isinya kurang lebih begini

" Saya suka biologi. Berarti apa cocok ya saya masuk kedokteran? Saya suka Fisika. Apa masuk teknik aja ya. Tapi teknik apa ya? Saya ga terlalu suka kimia-kimiaan soalnya. "

" Kalau masuk jurusan ini, nanti peluang lapangan kerjanya bagaimana ya?"

" Kalau masuk jurusan itu bakal sukses ya kak? Seperti tante X atau om Y itu dari jurusan ini loh."

Apa komentar saya tentang kesemua hal itu?

Oke, saya jawab satu-satu ya.

Hal pertama, tentang mata pelajaran favorit. Terlalu naif untuk mengasosiasikan kesukaan pada pelajaran tertentu dengan jurusan yang kamu ambil

Pada dasarnya setiap ilmu itu akan berkaitan satu sama lain. Apalagi kalau kamu kira pelajaran kuliah jurusan ini bakal gampang karena pelajaran pas SMA kamu kuasai dengan baik. Yang kamu lakukan kelak adalah... terus berusaha.

Kamu mau masuk teknik elektro karena kamu kira elektronika itu keren abis pada saat kamu belajar Fisika di SMA. Ternyata kamu menyadari bahwa elektro yang dipelajari di kuliahan itu begitu berbeda dengan masa SMA dulu.

Atau kamu mau ambil jurusan teknik mesin karena pelajaran Fisika mekanika kamu suka banget dulu. Well, perlahan kamu akan menyadari bahwa pelajaran kuliah ternyata lebih sulit daripada yang kamu pikir.

Kamu suka kimia makanya kamu masuk kimia murni. Percayalah, pelajaran masa SMA kamu itu sangatlah sederhana dibanding apa yang kamu lihat kemudian di bangku kuliah.

Janganlah terlalu banyak menjadikan mata pelajaran SMA sebagai acuan.  Kuliah apapun... jurusan apapun... tidak akan ada yang benar-benar mudah untuk dijalani. Kalau itu mudah, kemungkinannya cuma dua. Kamu terlalu genius atau kamu tidak kuliah dengan benar.

Dan akan lebih baik jika saat kuliah nanti, kamu membuka juga pikiranmu untuk mengetahui bidang lainnya. Belajar bahasa asing misalnya, juga adalah pilihan yang baik. Tidak harus mendalam. Tapi percaya deh, pengenalan akan ilmu lain itu bakalan memperluas wawasanmu. Dan meskipun itu mungkin ga akan berpengaruh banyak terhadap IPK kamu, itu akan bermanfaat untuk kehidupanmu kelak.

Janganlah terpaku pada asumsi bahwa mata pelajaran favorit harus menjadi pilihan jurusanmu. Teruslah belajar tentang segala hal. Kesukaan kamu pada pelajaran tertentu belum tentu berbanding lurus dengan kemampuan kamu menyerap mata kuliah kelak. Dan kemampuan belum tentu berbanding lurus dengan nilai baik, apalagi dengan pekerjaan yang baik nantinya. Terlalu banyak faktor yang berperan di dalamnya yang semua berpusar dalam sebuah lingkaran ketidakpastian yang disebut masa depan. Pilihlah mata kuliahmu dan mulai berusahalah untuk menjalaninya dengan bahagia. Itu akan lebih baik.

* * *

Hal kedua... jurusan tertentu menjamin kesuksesan?

Well, menurut saya sih ini mitos ya. Jurusan apa memangnya yang bisa bikin kaya? Kedokteran, hukum, teknik industri, bisnis, ekonomi?

Apa iya seorang dokter itu pasti sukses dan kaya? Ach, dokter gagal yang ga laku banyak juga kok. Apa iya seorang pengacara itu berarti sukses dan kaya? Ach, nyatanya banyak pengacara yang ga laku juga di pasaran. Apa iya jurusan bisnis itu pasti lebih baik daripada teknik? Tidak ada jaminan untuk itu.

Kesuksesan yang kamu raih kelak, bukanlah semata-mata ditentukan dari jurusanmu. Tapi bagaimana kamu berjuang ketika kamu berada di dalamnya. Kesuksesan kamu itu tergantung dari bagaimana kamu membangun karakter kamu semasa muda dan saat membangun karir, bagaimana kamu membangun kepercayaan orang lain kepada dirimu, bagaimana kamu membentuk relasi dengan orang lain, dan lain sebagainya. Dan itu semua ada dalam proses perjuangan yang begitu panjang. Dan mungkin juga, ditambah naungan keberuntungan.

Karakterlah yang akan membuat kamu sukses dalam jangka waktu yang lebih panjang. Bukan jurusan.

* * *

Jadi bagaimana? Pilihan jurusan itu ga penting. Oh tentu ga juga dong. Kamu belajar satu ilmu selama 3-4 tahun hidupmu loh. Jangan sembarangan juga dalam memilih.

Lakukanlah analisa sebaik mungkin sebelum masuk ke jurusan tertentu. Tanyalah pada orang lain yang bisa objektif dalam memberikan penilaian ataupun gambaran. Jangan pada mahasiswa dropout. :p

Masuklah ke jurusan yang sebisa mungkin memang kamu sukai dan minati. Dan berjuanglah dengan keras di dalamnya. Secara konsisten.

Kalaupun setahun dua tahun di dalamnya ternyata,.... kamu menyadari bahwa jurusan ini ternyata bukanlah apa yang kamu mau, ingatlah bahwa tidak harus selamanya bahwa ketika kamu lulus nanti, kamu akan bekerja di bidang yang sesuai dengan mata studimu. Tetap bekerja keraslah. Percayalah bahwa pola berpikir, karakter dan integritas, kemauan untuk rendah hati dan terus belajar, yang kamu bentuk di bangku kuliah, akan lebih berguna kelak. Itu akan tetap kamu bawa dan bisa bermanfaat dalam pekerjaanmu nanti. Apapun itu.

* * *

Bukan hal yang mudah untuk menentukan pilihan studi kamu. Berbahagialah ketika kamu bisa memilih, dan lakukan yang terbaik. Benar bahwa tidak selamanya orang berpendidikan tinggi akan sukses di dalam hidup, benar bahwa tidak selamanya orang tidak berpendidikan akan gagal.

Tapi paling tidak, statistik menyatakan bahwa pendidikan bisa memberikan peluang untuk pilihan hidup yang lebih terbuka.

All the best.

Wednesday, January 21, 2015

Mempertahankan Pernikahan Bahagia

" Saya tidak suka dengan istilah mempertahankan pernikahan, karena kata "mempertahankan" itu kesannya kok menderita sekali. Saya ingin mengajarkan pernikahan bahagia."

Saya suka sekali dengan kutipan kalimat dari seseorang yang satu ini. Tapi entah kenapa istilah mempertahankan pernikahan seperti hal yang jadi lebih lumrah untuk diucapkan. Apa memang kehidupan pernikahan banyak yang penuh dengan intrik dan masalah dan penuh dengan penderitaan? Jadi memang lebih pas kalo disebut mempertahankan daripada menikmati? Well...

Oke, saya bukan ahli dalam hal nikah menikahi, mempertahankan, atau menciptakan pernikahan bahagia, atau apapun itu. Pengalaman saya rasanya belumlah cukup untuk mengajari apalagi menggurui orang lain.

Tapi andaikan saya boleh memilih, saya ingin keduanya saja.... mempertahankan pernikahan yang bahagia.

Semoga.... =)

Tuesday, January 20, 2015

How to be an Effective People?

One of the strength that I have is my effectiveness in completing tasks. Last time, I find it is just an ordinary skill, but slowly I realize I always complete task faster and more effective than most of my peers or colleagues. 

I have good track record of high productivity in my life. I wrote many articles, I published a lot of research journals when I was PhD, while I still join many CCAs and do part time work during my study time. In my working life, I completed more than targeted paperwork which people said are tiring, I need time to revise my knowledge due to the fact of multiple subjects that I teach, and well I have second highest student number in my company.

How can I find all those time? What is the secret? Am I very smart? Or do I really work much longer time than the others? Well, I don't think intelligent matters that much. What important is actually about habit. And habit is the one builds the character. 

Okay, let me share with you a bit of my secret.

1. I plan my time, in details
I can tell exactly I would do in the next hour. When is the time for me to do this or that stuff. When is the spare time I can spend if some tasks cannot be completed in time due to unexpected circumstances. I know when is the time for me to get relax. I plan how long I should spend for my meal and my shower and to find idea and also for my blogging. :p 

I believe that great people with high productivity are people who plan everything until the small detail. I apply it to my life, and I will continue doing it. 

I don't believe anything will be done if the timeframe is ASAP. I don't believe anything completed if the task completed are this that and ETC. 

ASAP and ETC is not in my dictionary. Put eveything in detail then you know what you need to do and by when. Then you can find yourself be more effective.


2. I don't like delay
I hate delay. For everything. Because it spoils my original plan. If something comes to me urgently, I always try to complete it soon. I hate to wait until tomorrow something I can finish it today, unless if it is really unimportant. I hate to wait until next hour for something I can complete now. Delay is just not me.


3. I keep record of many things in my life
I have record of my finances. I have record of my daily work and progress. I have record of my travel. Call me crazy, but I really do record for many things. For me, a good record is the way for me to do a proper analysis and future plan. I like to work based on data, not based on feeling.


4. Don't be too rigid and don't limits your creativity
Ya I do a plan everything. Yes I make it in very detail but it doesn't mean that I need to bind my life towards it. Schedule helps me to be more effective but it's not made to restrict me too much.

Be a flexible person. You need to know when you need to twist a bit on your schedule without destroy your masterplan. Don't be too rigid in everything. Keep your mind open, meet new people, and listen to the new idea.


5. Be consistent and trust yourself
Be a person you can trust. Keep a promise you make to yourself. It builds your trust and confidence towards you. When you say to yourself you will do something, do that. 

If you, yourself, cannot trust what you say, how can other people trust you and your word?
If you, yourself, cannot fulfill what you promise to yourself, how can other people trust you and your promise?

Be consistent. That make yourself more trustworthy.

* * *

All the best.

Wednesday, January 14, 2015

Kerendahan Hati

Kerendahan hati itu

Kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

Hmm, mungkin kedengarannya sederhana. Tapi ternyata tidak banyak orang yang mau dan rela untuk melakukannya. Atas nama gengsi. Atas nama pengalaman. Atas nama kesombongan. Karena merasa lebih baik daripada orang lain. Entahlah....

Saya percaya bahwa saya akan senantiasa bisa belajar dari siapapun, bahkan dari orang yang paling tidak berpengalaman sekalipun. Karena pastinya setiap orang memiliki sudut pandang berbeda yang mungkin tidak saya miliki.

Setiap hari, banyak pengalaman bersama orang lain yang membuat saya sadar. Banyak juga hal yang belum saya tahu. Banyak paradigma baru yang menarik untuk diselami. Dan tentunya, saya masih ingin terus menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Semoga.

Sunday, January 11, 2015

In the End

In the end, you are the one can improve yourself.
In the end, you are the one can make a change.
In the end, you are the one make decision about your life.

People may try to help you.
People may try to offer you something.
People may try to do this or that for you.

But in the end,
You are the one can decide.
whether or not you want to take action
and make a difference.

I want.

How about you?

Merindukan Hidup yang Lucu

Hidup ini seperti kurang lucu lagi.

Ketika aku membaca pengalamanku yang tertulis di blog ini di tahun-tahun silam dan membandingkannya dengan kisah-kisah terbaru. Rasanya kok....

Aku sudah tidak selucu itu lagi. Emang dulu kamu pernah lucu Her?

Bagaimana aku menuangkan ide, bagaimana aku menghadapi masalah, rasa-rasanya kok aku sudah jadi orang yang lebih serius ya dalam segala sesuatunya. Menjadi lebih keras? Atau mungkin aku jadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan? Atau apapun itu...

Memang benar sih bahwa aku telah menghadapi kehidupan yang lumayan keras dan berliku dalam beberapa tahun belakangan. Dalam dunia pertemanan, dalam dunia kerja, dalam dunia keluarga,
Semenjak aku lulus dari kuliah, aku semakin menyadari bahwa permasalahan hidup itu jauh lebih kompleks dibanding sekedar belajar. Bahwa toh kenyataan hidup itu tidak sesederhana menghadapi kertas ujian.

Aku belajar... tentang bagaimana bagaimana berinteraksi dengan orang lain.
Aku belajar... menilai kata-kata dan ketulusan orang lain.
Aku belajar... mempertahankan nilai-nilai integritas di dalam kondisi tersulit sekalipun.

Mungkin aku beruntung aku sudah pernah melihat sisi baik dan buruk seseorang, ketika aku masih berada di usia muda.

Mungkin aku beruntung pernah bertemu orang-orang yang begitu inspiratif dan memberi perubahan.

Mungkin aku beruntung karena sepertinya kok hidup ini memang ingin memberi aku banyak pelajaran bersama dengan iringan waktu....

Untuk semakin mendewasakan.