Friday, April 24, 2015

Mencari Petualangan Baru

Sudah empat tahun berlalu semenjak saya bekerja sebagai seorang full timer di bidang pendidikan. Memang bukan pada posisi yang terdengar keren. Hanya seorang guru les. Terlepas dari istilah senior teacher, head of department atau apapun yang mau disematkan kepada saya oleh perusahaan, kenyataan itu tetaplah sama. Saya itu tetaplah karyawan dengan status guru les. Titik.

Yah saya sebenarnya baik-baik saja dengan sebutan seperti itu. Pekerjaan saya relatif sederhana. Ketika kamu setiap tahun kamu mengulangi lagi materi yang sama dan itu-itu saja, perlahan toh kamu jadi mahir juga kan. Dan selama ini toh finansial saya baik-baik saja meski tidak sampai berkelimpahan. Jadi apa lagi yang mesti dicari?

Tantangan.

Mungkin itulah yang akhirnya hilang dari pekerjaan yang saya lakukan ini. Tidak ada lagi inovasi yang terlalu baru untuk saya bisa berkembang lebih lanjut.

Bisa dibilang, saya hampir mencapai puncak dari apa yang memungkinkan di dalam dunia les-lesan. Kecuali saya membuka usaha sendiri dan mengembangkan sayap dari sana, karir sebagai guru les sudah hampir sampai pada kondisi yang disebut stagnansi.

Ketika saya melihat orang-orang yang bekerja lama di perusahaan ini dan keadaannya tetap seperti itu-itu saja, saat itulah saya mesti memikirkan sebuah alternatif. Ini bukanlah sekedar passion. Saya tetap menyukai pekerjaan saya, tapi apakah memang.... hanya segini?

Mungkin benar bahwa manusia memang tidak mudah merasa puas.

Saya pun mulai mencoba berimprovisasi. Sedikit beralih profesi. Tidak menyimpang jauh-jauh memang. Tetap di dunia akademik. Tapi mencoba sesuatu yang sedikit lebih sulit, dan menantang secara akademik. Sesuatu yang baru, yang belum pernah saya lakukan terlalu banyak sebelum2nya.


~HgS~
berusaha mencoba mengajar tertiary level.... =)

Monday, April 13, 2015

Behind the Scene of Hiring Process

Despite all skills, knowledge, experience and many other stuff, salary is one of the real reason why someone is get hired or not get hired. In the end, you should realize why the department is called as a human resource. It is to find resource in the form of human who is as good as possible with the cost as low as possible.

When you are a fresh graduate, young and inexperience, the hiring manager normally reject you because of your incapability of doing the jobs immediately after you are hired. You still need to learn, to be trained, to know what exactly you can contribute in this job area.

When you slowly get better and your salary (hopefully) rises up, it starts to be a problem when you want to find another alternative or option for your career.

Though you definitely don't mind to get a high salary. Sometimes, too high salary may be a problem.

A hiring manager would think " Why should I hire this person if it really cost so much for the company? Is he that worthwhile? Can his skillset be replaced or at least learnt quickly by other people with "cheaper" cost?"

Well, even if you lower down you salary standard, they may think, why does he do that? Is there any problem in his previous company? Is it truly because of passion to move to a new alternative career path?

No matter how high is the enthusiasm, spirit, desire and passion. Money is always a problem in every single situation. Especially when we talk about hiring process.

It's not really about cert, or degree, or grade.

It's more about whether or not this human resource candidate do the jobs and make this company to continue moving on? And hopefully to be more profitable than ever before.

Just as simple as that... =)

Sunday, April 12, 2015

Outsource Homework

Parents are paying between $200 to $250 an hour for special tutors. These tutors don’t help students revise their lessons. Instead, they are hired specially to complete homework that the children cannot finish. They go to their clients' homes at night — sometimes even after midnight — to finish up assignments while the children go to sleep. It’s worthwhile, say parents, because their kids’ time is freed up to be better spent on more important homework and assignments.

I read this news recently in online newspaper. And well, I somehow feel sad. It's not about the amount they spent. For some people, spending $200 may only a small amount. So I choose not to comment about money. But personally, I really don't think it is a correct way of education. You cannot just exchange learning opportunity with money.

I am a full time tutor and I am teaching all math and triple science subjects (physics, chemistry and biology), for secondary and JC. I find it's very rare in Singapore to find a tutor with this versatility. However, if I get offer just to do student's homework, I don't think I would like to accept it.

Call me weird or I'm too idealistic... but I have a strong belief, that you should solve your own problem and slowly you would become better. Struggle and pressurized experience is necessary to improve anybody to learn something and be a better person.

You can be better by solving problem and not by avoiding it. Make mistakes. Learn something. That's life.

And well, school homework may be just a too small matter compared to the real life problems. If a person since young is not trained to manage time and solve problem, how can he cope with much more complicated life problems when he grows up?

Well....

Monday, April 6, 2015

Move on

Terkadang yang kamu butuhkan bukanlah uang yang lebih banyak, bukanlah jam kerja yang lebih baik, bukanlah posisi yang lebih 'wah'.

Kamu hanya membutuhkan tantangan baru, untuk memenuhi kesenangan dirimu memahami hal-hal baru. Berinteraksi dengan orang-orang baru. Melihat dunia dari sisi yang berbeda. Kamu butuh untuk merasa.... dihargai. Dan berguna.

Karena hidup tanpa tantangan tidaklah menarik. Terlalu monoton. Stagnan.

Ketika kamu sudah mencapai yang disebut sebagai self actualization, kamu tidak seharusnya khawatir dengan hal-hal kecil.

And well, people come and go. Life must go on.... =)

Tuesday, March 31, 2015

Mencontek sebagai Budaya Bangsa


Teringat dulu ketika saya remaja, saya sempat berbincang dengan teman-teman seangkatan dari berbagai sekolah. Mereka bercerita bahwa salah satu kesulitan yang harus mereka hadapi ketika menghadapi ujian adalah melawan godaan untuk tidak mencontek.

Saya pun sempat bingung “Tidak mencontek saat ujian? Bukankah memang seharusnya demikian?”

Batin saya seperti tak habis pikir. Tapi karena permasalahan yang serupa itu dihadapi bukan hanya oleh satu atau dua orang teman, tapi banyak. Tapi saya memilih diam saja, mendengar dan tidak banyak berkomentar.

Kenapa sesuatu yang menurut saya adalah sebuah hal yang “wajar” jadi sesuatu yang perlu diperjuangkan mati-matian oleh orang lain?

Mungkin saja saya beruntung bahwa saya punya kemampuan akademik yang cukup baik jadi tidak perlu cara-cara tidak jujur untuk mencapai hasil baik.

Mungkin saja saya beruntung bahwa saya berada di sebuah lingkungan sekolah yang ekstra disiplin, yang membuat aturan bahwa ketika kamu ketahuan mencontek sekali saja saat ujian, maka kamu akan di DO (drop out) dari sekolah.

Mungkin saja lingkungan dimana teman-teman saya berada itu menjadikan mencontek sebagai sebuah hal yang biasa? Sehingga jika kamu tidak mencontek kamu akan tertinggal?

Mungkin saja.

Tapi tetap saja hal itu terus mengganjal di hati dan pikiran saya. Saya masih tidak seberapa paham dengan fenomena mencontek yang kian menjamur di sekolah-sekolah. Saya tidak begitu percaya bahwa permasalahannya ada pada sisi akademik, pada pelajaran yang terlalu sulit atau kemampuan para siswa yang tidak mencukupi.

Saya punya pemikiran bahwa ada sesuatu yang salah dengan budaya yang ada. Dengan sistem pendidikan yang ada. Yang pada akhirnya melahirkan pemahaman dalam masyarakat kebanyakan, bahwa mencontek itu boleh, wajar, dan sah-sah saja. Namanya juga siswa, siapa sih yang ga pernah nyontek?

Tapi, siapakah saya untuk beranalisa? Saya hanya seorang bocah SMA yang tidak punya cukup pengalaman untuk membuktikan apa-apa yang ada dalam pemikiran saya.

Satu hal yang saya cukup bangga dari teman-teman saya. Mereka tahu bahwa mencontek itu tidak baik, dan mereka berusaha keras untuk tidak menjadi sama seperti lingkungan di sekolah dimana mereka berada.

***

Belasan tahun sudah berlalu semenjak masa-masa itu.

Saya kini menjadi pengajar di negara tetangga dengan sistem pendidikan yang standardnya super tinggi. Dengan soal-soal ujiannya yang supersulit.

Apakah para murid kesulitan menghadapinya? Tentu saja. Toh tidak semua orang terlahir sebagai jenius. Begitupun dengan negara ini. Nilai bagus dan jelek dalam sebuah kelas dan sekolah akan selalu ada.

Tapi satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana sikap para murid dalam menghadapi ujian. Berbulan-bulan sebelum ujian akhir, mereka sudah bersiap-siap belajar, les sana sini, kerjakan soal-soal ujian tahun lalu, membuat rangkuman untuk memudahkan mereka belajar, dan usaha-usaha lainnya. Guru-guru sekolah pun sudah sejak jauh-jauh hari memberikan latihan pada anak didik mereka.

Sepertinya generasi muda di bangsa ini sudah terbiasa untuk bekerja keras untuk mencapai hasil yang terbaik. Kompetisi yang terjadi sudah begitu ketat dan keras satu sama lain.

Hampir tidak pernah rasanya saya mendengar kasus tentang mencontek saat ujian. Satu orang saja tidak, apalagi yang namanya mencontek massal. Kalau benar itu terjadi, mungkin saja sekolah itu sudah jadi sorotan media nasional.

Hmm, ketika saya mencoba bandingkan dengan ujian di tanah air saya. Soal ujian nasional yang bocor. Contek mencontek massal yang marak terjadi saat ujian akhir. Murid-murid yang lebih sibuk untuk protes agar ujian nasional ditiadakan ketimbang sibuk belajar. Ditambah lagi dengan riuh rendahnya komentar pengamat dan pakar pendidikan ini itu di media massa.  Ach, makin memusingkan.

Hipotesa awal saya; bahwa akar masalah mencontek bukan dari sisi akademik, tapi dari sisi kebiasaan; seperti menunjukkan kebenarannya.

* * *

Saya percaya bahwa tidak semua orang dilahirkan untuk berbakat tinggi dalam sains, matematika, ataupun bahasa. Saya percaya bahwa belasan tahun semenjak kamu meninggalkan bangku sekolah, kamu bahkan sudah tidak ingat lagi apa itu rumus-rumus trigonometri, rumus fisika, kalkulasi kimia, kalau kamu tidak lagi berkecimpung di bidang itu. Karena itulah saya percaya bahwa yang terpenting sebenarnya bukanlah pengetahuan dan hafalan akan semua hal-hal itu. Tapi mental yang terbentuk ketika kamu dilatih menghadapi masalah. Bagaimanakah respon kamu ketika dihadapkan pada tantangan?

Saya merasakan bahwa masalah kehidupan ini bakal lebih rumit dan lebih memusingkan ketimbang mengerjakan soal ujian. Ketika menghadapi ujian saja terbiasa tidak jujur dan cari jalan pintas, bagaimana nanti ketika meghadapi masalah yang lebih besar?

Mencontek saat ujian memang terdengar seperti perkara kecil, tapi nilai yang tertanam di dalamnya tidaklah kecil. Kehidupan bangsa yang malas, korup, dan ingin segalanya yang instant, adalah muara dari sebuah sistem yang salah dari awal.

Sudahkah kita terlambat memperbaiki kesalahan kita?

Tentu saja sudah.

Makanya, yuk mulai kita percepat langkah. Kejar ketinggalan kita dari bangsa-bangsa lain. Mulai dari diri sendiri. Disiplin dari hal-hal kecil. Jujur pada hal-hal yang kelihatan remeh. Fokus untuk bekerja dan bukan untuk mengeluh. Dan berjuang dalam mencapai cita-cita kita.

Salam.

Sunday, March 29, 2015

What Does Lee Kuan Yew Mean to Me?

If not because of him, I may not come to this country, 11 years ago.

* * *

Well, life is mysterious. Life is unpredictable.

When I was a teenager, I never really expected to study and work overseas. Everything was quite fine in my home country. I had a lot of friends. I had a nice environment. I didn't really have a desire to study in any overseas university. Yes, I have observing some overseas university during education fair in my high school, but that's all. I never put any action because I never really thought of step out my comfort zone.

Why? Language was always my biggest problem. Despite my good grade in mathematics and sciences, I am not that talented in learning and speaking a foreign language. I am not confident in TOEFL, SAT, IELTS, and any other tests. If I really took it, I am pretty sure my language result is not that excellent. I have difficulties expressing my idea in English. If I stay overseas, can I survive? Can I even finish my study? I am normally quite confident in many things but I always have that fear in my life.

And what make it worse. Like a typical of blurry teenager, I didn't really know what I want. I didn't know what course I should take, in which university. I got accepted in some local university without taking tests. But finally I still applied to NTU because of a very simple reason. Many of my friends applied for it also. And to make the story short, I was accepted.

I didn't really know much about NTU and Singapore at that time. I didn't really make a lot of research on it. From what I heard, it was a fine, nice, and neat country as compared to my hometown. And I can receive a good education here. So why not? I decided to take the offer and started my journey.

I started my life as a young, blurr, childish 17 year-old boy in a foreign country. Slowly when I adapt to the culture of this country, I start to know more about this country, how she was started and how she can become this successful in relatively short period of time. How she was transformed from a third world country to be a first world country. How this country can have a clean government, an excellent transport system, comfortable and conducive environment. As compared to... erm, Jakarta.

A lot of value is learnt in my life here. Hardworking, passion, integrity. I need to admit that life in this country is tough. Life is full of competition. Everywhere. In everything. And I believe it was one factor which make this country grow very fast.

And well....

When I look back, I really thank God for the opportunity to be here, to learn all those stuff when I am still very young. I have been 11 years here and I love this country. This country is not perfect. No country is. But I have spent 1/3 of my life here and I have no regret about it.

Lee Kuan Yew has given his life and built this country to this great. Singaporeans are very lucky to have him in their country.

I never really met him in person, but I really feel his impact. He is a great person. A great leader. I really wish that my country also have such a strong and dedicated leader like him.

I hope.

In the end of the day, I want to say, thank you Mr Lee Kuan Yew for all your dedication in your life.

Wednesday, March 25, 2015

Workload and Time

If you can finish a work within one week for the thing someone else cannot finish in one year, I believe the problem is not about the competency. It is about the desire and motivation. Maybe it's just because the heart and mind is not focused there.

I never believe that someone is too busy, unless if you are a prime minister or president of a country.  I just believe that nobody is too busy for something they think is important.