Monday, March 2, 2015

Memaknai Pendidikan

Banyak orang berpendapat bahwa pendidikan tinggi akan menjamin  kehidupan yang lebih baik.
Apakah benar?

Tidak sepenuhnya tepat pastinya, karena akan dengan mudah kita berargumen bahwa si A tidak berpendidikan tinggi kok namun tetap bisa meraih sukses. Atau si B yang punya pendidikan tinggi namun kehidupannya begitu-begitu saja bahkan mungkin cenderung menyedihkan.

Tapi kalaupun pendidikan tidak berpengaruh, kenapa juga begitu banyak orang berlomba-lomba mencari dan pendapatkan pendidikan yang baik, bahkan mengorbankan banyak hal, demi hal yang satu itu? Jawabannya jelas. Pendidikan tentu punya pengaruh, pengaruh yang signifikan, meski mungkin bukanlah satu-satunya faktor.

* * *

Bagi saya, arah dan jalan hidup itu punya begitu banyak faktor yang berkorelasi satu sama lain. Terlalu rumit dan seringkali terlalu sulit untuk dikaitkan satu sama lain. Talenta, prinsip hidup, karakter, integritas, dan tentunya juga... keberuntungan. Semua berinteraksi menjadi satu dan membawa kehidupan seseorang ke sebuah arah. Yang lebih baik. Ataupun yang kurang begitu baik.

Pendidikan bagi saya adalah suatu cara untuk mengarahkan parameter-parameter di atas ke arah kehidupan yang lebih mudah. Melalui pendidikan, orang mengenal dan mengasah makna perjuangan, makna kerja keras, makna bekerjasama dalam tim, makna karakter, dan juga hal-hal lainnya. Dan melalui pendidikan pula, orang mungkin akan bisa lebih "beruntung" untuk memulai dengan karir awal yang lebih baik. Dan mungkin melalui pendidikan pula, orang-orang bisa menemukan koneksi yang membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik.

Saya melihat banyak keluarga yang merangkak naik kelas sosial melalui pendidikan, dan juga keluarga yang tidak begitu sukses karena terlalu menganggap enteng pendidikan.

Sudah 4 tahun berada dalam dunia pendidikan secara full time. Belum begitu lama mungkin, namun sedikit banyak saya mulai mengenal tentang seluk beluk dan baik buruknya dunia yang satu ini. Dari segi sistem, kurikulum, pembuat aturan, bisnis, dan lain sebagainya.

Memang tidak ada satu pun sistem di dunia ini yang sempurna. Tapi kalau saya disuruh memilih, kelak saya masih lebih ingin memberikan modal pendidikan bagi anak-anak saya. Baik secara akademik, dan tentunya juga.... tentang kehidupan.

Sunday, February 15, 2015

Techers' Valentine

" Valentine tahun ini kemana Her?"
" Kerja"
" :p"

Sedih ya kedengarannya. Tapi yah memang begitulah. Apalagi Valentine justru hadir di hari Sabtu, hari dimana saya menjalani kesibukan maksimum. Istri saya pun bekerja di hari yang sama. Valentine pun menjadi tidak berbeda dengan Sabtu lainnya.

Mungkin fakta bahwa kami adalah pasangan pengajar, kami jadi tidak serta merta merayakan hari Valentine dengan saling memberikan coklat maupun bunga. Ya saya setuju bahwa membeli coklat dan bunga itu memang ungkapan kasih sayang. Tapi kenapa harus dilakukan di saat harga sedang melonjak tinggi hanya demi mengikuti trend? :p

Dan memberi coklat dan bunga di V day kok kesannya mainstream banget. Ga surprising. Ga istimewa. Ga asik. Pasaran. Dan itu bukan saya banget....

* * *

Terus apakah kamu tidak merayakan Valentine demi memberikan contoh baik pada anak didik? Ach itu apalagi. Saya sih tidak berada di kubu yang katanya sih lagi ramai-ramai menolak perayaan hari Valentine. Kalau memang ada yang mau merayakan memang kenapa? Bagus juga kan memberi kesempatan bisnis bagi banyak orang dalam sekali setahun.

Bagi saya, Valentine adalah hari kasih sayang. Dan kasih sayang itu sifatnya universal.

Kasih sayang kepada orang tua. Kasih sayang kepada saudara. Kasih sayang kepada teman sekerja. Kasih sayang kepada murid-murid kami. Kasih sayang kepada semua orang.

Karena sesungguhnya kasih sayang itu bukan semata-mata berasal dari coklat maupun bunga

Ia muncul dari hal-hal sederhana

Setiap harinya...

Thursday, February 12, 2015

Tiga Tahun Lalu dan Hari Ini

Tiga tahun lalu, di hari ini, di bulan Februari 2012.

Saya masih tinggal di daerah Jurong West. Saya masih bekerja di perusahaan saya yang lama di Lakeside. Masih sibuk dengan aneka proyek ini dan itu. Saya masih dalam proses menunggu aplikasi PR saya. Saya masih belum ada pacar.

Dan waktu berlalu dengan cepat sejak saat itu.

Saya kemudian punya pacar, saya pindah kerja di akhir tahun, saya pindah rumah ke Commonwealth di awal tahun berikutnya, menikah di pertengahan tahun, pergi berbulan madu di akhir tahun, dapat promosi karir, pindah rumah lagi di awal tahun ke daerah yang lebih central.

Begitu banyak hal lainnya telah terjadi selama tiga tahun.

Dan pada saat bersamaan seorang mantan tukang kayu yang saat itu masih jadi walikota Solo sekarang sudah naik pangkat jadi Gubernur dan kemudian jadi Presiden.... :-)

Wednesday, February 11, 2015

There is Always the First Time

" There is always the first time for everything."

Seminggu silam, saya berdiskusi dengan teman sekerja saya yang berprofesi sama, tutor. Dia seorang yang sudah lumayan berpengalaman di bidang ini. Sudah berada kurang lebih 4 tahun mengajar di sekolah, dan juga sempat mengajar privat dari rumah ke rumah. Mungkin karena durasi pengalaman yang kurang lebih setara iulah kami cukup dekat satu dengan lain.

Bahasan menjadi lebih menarik ketika kami mendiskusikan bagaimana kami memulai untuk mengajar... dulu. Ketika belum banyak yang kami tahu. Tentang syllabus. Tentang sistem pendidikan. Tentang trik ataupun teknik yang tepat untuk menyampaikan materi. Tentang banyak hal. Karena saat itu adalah.... pertama kalinya bagi kami.

Terbesit sebuah kalimat yang menarik darinya, "Well, eventually we can become better with time. But we need to feel sorry to our first few students. They become our trial, when we are still a beginner"

* * *

Memang tidak pernah mudah untuk memulai sesuatu. Gagal? Itu biasa. Yang jadi masalah adalah apakah kita punya cukup keberanian kesana? Apakah kita cukup berani untuk keluar dari zona nyaman dan gagal? Ketika kita sudah begitu sukses di bidang lain?

Saya memulai mengajar sebagai seseorang yang bahkan tidak tahu sistem pendidikan di Singapura. Saya hanya datang kemari pada saat saya mengenyam universitas.

Zona nyaman saya saat itu adalah pada dunia riset. Saya sudah memulai dan sudah lumayan berhasil dengan bidang itu. Saya bisa saja bertahan dengan nyaman dan terus menjalankan riset. Tapi mengapa juga saya berani mengambil jalan yang nyeleneh? Mencoba sesuatu yang baru, untuk pertama kalinya?

There is always the first time for everything. Sometimes it is because we just have no option in life. But many times, it actually depends on our own courage to start, to go out from our comfort zone, and create an innovation.

Can you?

Tuesday, February 3, 2015

Random Kindness

I do believe about doing random kindness to random people. You may not see the effect now, but eventually the kindness would return to you. Do simple stuff that makes people smile. Many times, small simple care speaks more strongly than thousands of words.

Well, life is about reaping what you are sowing.
You do good thing, you will receive good thing.
You do bad thing, you will receive bad thing.
Just as simple as that.
It doesn't need any religion to believe that concept. It is just the nature of life.

Spread your love. In the end, your wealth is determined not by what you have, but who you have, even when you are in the difficult time in your life.

Sunday, February 1, 2015

Good Boss, Bad Boss

Saya sudah beberapa kali berganti pekerjaan, beberapa kali berada di bawah beraneka atasan dengan skill dan karakter yang berbeda-beda. Namun terlepas dari apapun, nyatanya saya bisa belajar sesuatu dari mereka semua.

Boss saya pada pekerjaan pertama saya adalah sebuah mimpi buruk. Pekerjaan kedua dan kemudian ketiga (sekarang) bisa dikatakan cukup setara dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kalau bisa dirangkum kelebihan antara aneka boss yang pernah saya dapatkan, beginilah kira-kira gambarannya. 

Bagi saya boss yang baik itu...
1. Lebih banyak memberikan motivasi, bukan kemarahan yang meluap-luap.
2. Memberikan kesempatan bagi karyawannya untuk berkembang menjadi lebih baik. Tentunya juga disertai dengan kompensasi yang seimbang.
3. Lebih fokus terhadap hal-hal esensial, bukan pada masalah-masalah kecil. 
4. Menguasai bidang pekerjaan yang dilakukan. Bisa menggantikan pekerjaan karyawan sewaktu-waktu bilamana dibutuhkan.
5. Tidak melepas tanggung jawab ketika masalah muncul.
6. Memberikan feedback yang objektif pada setiap orang, akan apa yang baik, dan apa yang perlu ditingkatkan. Pada setiap keadaan. Bukan hanya pada saat masalah muncul.
7. Mempunyai target yang jelas untuk dicapai. Dan langkah-langkah yang terstruktur untuk menuju kesana.
8. Bersikap fleksibel terhadap berbagai keadaan ketika mengambil keputusan.
9. Memberikan perhatian terhadap karyawannya. Bahkan untuk hal-hal yang sederhana.
10. Terbuka terhadap kritik dan masukan. Dan mencoba menjalankan masukan-masukan yang baik.

Semoga saja suatu hari kelak, saya bisa menjadi boss yang baik. Bukan sebuah hal yang mudah, tapi saya akan berusaha ke arah sana. =)

Tuesday, January 27, 2015

Nomaden

Satu keadaan yang harus saya terima saat ini adalah... nomaden. Hidup berpindah-pindah. Sungguh bukan sebuah hal yang mudah untuk packing dan unpacking barang. Lagi. 

Berhubung Singapura menerapkan aturan baru bahwa untuk kasus PR, hanya suami istri yang sudah PR selama 3 tahunlah yang boleh membeli HDB, maka kalangan kelas menengah seperti kami lah yang akhirnya terkena dampaknya secara maksimum. 

Memang benar, membeli private property bisa menjadi sebuah pilihan. Sayangnya opsi itu belum mungkin untuk diambil untuk saat ini. Kalaupun memang kami mau memaksakan diri membeli, yang bisa kami dapatkan hanyalah sepetak condo satu bedroom atau studio saja. Tak usahlah berpikir untuk mencari landed property... =(

* * *

Sampai sejauh ini saya masih berpikir untuk pulang ke tanah air, pada jangka waktu yang belum ditentukan. Sekalipun boss yang menanyakan, saya pun terang-terangan saja menjawab, suatu hari kelak saya masih ingin pulang ke tanah air. Entah kapan. Karena saya pun tidak tahu.

Terlalu nasionalis? Tidak juga. Mungkin ini adalah pilihan yang terbilang ekonomis. Biar bagaimanapun, negeri mungil ini adalah salah satu tempat dengan living cost tertinggi di dunia yang mana kalau kamu tidak bekerja itu artinya tabunganmu akan menyusut dengan laju yang kencang.

Keinginan untuk memiliki rumah permanen memang senantiasa ada dalam pikiran saya. Tapi yaaah biarlah saat ini kami bertahan dengan kondisi yang harus kami jalani. Suatu hari kelak mungkin kami bisa mengingat masa-masa nomaden ini, sebagai sebuah keadaan yang menarik dalam hidup kami.