Sunday, November 22, 2009

Coz It is Love

I know you are not that strong. Yet, I'm still loving you.
I know you are not that great. Yet, I'm still loving you.
I know you are not that perfect. Yet, I'm still loving you.

Coz to love is not about a feeling that someone is 'the one'. It's about a decision that you are really 'the one' to put my commitment.

Coz to love is not to find a greatness inside a person. It's about how both of us, two ordinary persons, can create our greatness together.

Coz to love is not to find someone perfect. It's about how to make the imperfect, looks perfect.

Don't ask me why I'm loving you.

It's not just simply because you are kind, or nice, or cheerful, or smart, or charming, or any other positive words I can say.

The reason I love is just because
.
.
.
It is you.


~HgS~
bukan untuk siapa-siapa

Wednesday, November 18, 2009

Ini Semua Karena

Aku termenung disini. Berpikir. Ingin rasanya memberontak...

Aku mendemonstrasikan sebuah konsep yang kira-kira bisa berjalan. Membuat sebuah kesimpulan awal bahkan sebelum project dimulai. Hypotesis driven.... Itulah bahasa kerennya dalam dunia riset. Aku berbahagia karena hasil yang diperoleh sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku bahagia karena aku bisa memperoleh sesuatu untuk dituliskan dan diekspresikan di dalam paper. Namun sesungguhnya, jauh di dalam lubuk hati ini ada suara memberontak. Ini ga bener. Ini ga ideal. Karena riset kan ga seharusnya seperti itu.

Aku menyembunyikan data yang hasilnya tak mampu aku jelaskan kepada khalayak. Atau mungkin toh aku tetap menuliskannya dengan dibumbui kalimat sakti... "the clear elaboration of this result is subjected to future investigation". Ach entah bagaimana dan siapa yang akan melakukannya kelak.

Aku menyimpan kegagalan-kegagalan. Aku bekerja keras demi mempublikasikan jurnal ilmiah, demi sebuah cerita yang terkesan sistematis dan realistis. Membuat sesuatu yang terkesan baru ditemukan orang. Sejauh mayoritas hasil eksperimen cukup konsisten. Sejauh segalanya cukup reproducible dan reliable. Tahukah kamu bahwa sesungguhnya, jauh di dalam lubuk hati ini ada gerangan suara memberontak. Karena riset kan... ga seharusnya seperti itu.

Aku berada disini. Bekerja dalam sistem ini. Dalam tekanan seorang atasan perfeksionis yang sebenarnya tidak terlalu pintar. Aku mengerjakan sesuatu yang aku tahu belum tentu berguna bagi perkembangan riset di bidang ini, sangat mungkin tidak berguna bagi masyarakat luas, bahkan juga untuk diriku sendiri.

Aku tahu pekerjaan ini menyalahi karakterku. Menyalahi hati nuraniku.

Karena sesungguhnya... tidak ada sesuatu pun yang "benar". Atau mungkin memang beginilah riset dengan segala keterbatasannya. Sebuah bidang yang katanya ingin "menyelidiki fenomena alam". Apanya yang diselidiki? Diprediksi mungkin iya...

Aku tahu mungkin aku bukanlah seorang pekerja lab yang baik. Aku bukan seorang yang cukup sabar untuk menunggu hasil eksperimen yang terlalu sering gagal. Namaku tercantum dalam 5 paper dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Lantas kenapa? Hebatkan aku?

Aku bertanya... Kenapakah aku bertahan disini? Dengan segala keganjalan akan sesuatu yang tidak ideal? Kenapakah aku ada disini? Kalau segala situasi yang di sekitarku tak lagi menguntungkan?

Kalau aku diminta untuk harus memberi alasan, mungkin saja hanya ada satu sebab untuk semua ini; kenapa sesungguhnya ini aku lakukan. Karena di dalam hidup ini, terkadang ada hal-hal di luar pokok masalah, yang membuat kita bisa bertahan menghadapi masalah itu sendiri.

Dan itu semua adalah karena
.
.
.
dia.


* apaan sih Her? * =p

Tuesday, November 17, 2009

Hari Itu

Hari itu, aku bertanya kepadanya..." Kromosom aja berpasangan, masa kita nggak?"

Ia menatapku perlahan sambil tersenyum... " Betul juga ya "

Dan sejak saat itu, kita pun jadian.

* * *

NB: Ide cerita di atas muncul setelah mengamati status FB dari Cantika.

* * *

Hmm kalau pembaca kurang suka dengan kisah fiksi, sebenernya ada kisah nyata sih yang terjadi beberapa tahun silam. Kisahnya nyaris-nyaris serupa.

Alkisah seorang cowo dan seorang cewe di NTU. Mereka sama-sama pergi ke computer room di sebuah hall.

Si cowo pake komputer di sebelahnya si cewe. Lalu buka account friendsternya. Kebetulan si cewe juga lagi membuka accound friendsternya.

Sejenak dia pun bertanya pada si cewe...
" Eh kita... ganti status yuk"

Dan sejak itu... mereka pun jadian. :-)

Monday, November 16, 2009

Figure Comments

Kadang aku heran. Kadang aku geleng-geleng kepala kalau komen yang dimunculkan dari boss (baik dari boss collaborator maupun boss sendiri) untuk figure yang aku buat adalah hal-hal semacam ini.

1) Tulisan semuanya harus Arial dan harus bold
Ok lah masuk akal biar konsisten sama figure lain yang dibuat oleh collaborator.

2) Huruf a, b, dan c ga boleh huruf kecil. Bikin huruf kapital
Errr, sedikit menggeleng. Tapi ok lah kalau memang tujuannya untuk konsistensi dengan figure yang lain dan mungkin memang aturan dari publishernya githu.

3)Ini current scale pengen dibikin supaya tingginya sama persis. Jadi angka yang dishow beda ga pa pa.
Errr, bukannya kenapa-napa sih. Soalnya si boss sendiri sih maunya angkanya yang sama, scale bar keliatan agak beda ga pa pa. Nah kalau si boss sana pengennya beda. Yah biarlah mereka yang bertengkar kelak.

4) Antara tanda + - di electrode mau dikasih tanda slash dunk biar jadinya +/-...
Errr... Ini penting ga sih?

5) Ini tulisan di scale bar akan lebih indah kalo backgroundnya transparant daripada putih
.... (-_-).....

6) Ini scale bar buat petunjuk 100 um pengennya ditaro di bagian kanan aja daripada di kiri
.... (-_-)"....

7) Ini gambar selnya kurang artistik, buatlah supaya kelihatan lebih 3 dimensi dan lebih indah
OMG menjerit dalam hati..." Aku lulusan Bioengineering Pak... bukan art and design!!"

Wew...

Memastikan Ketidakpastian

Fluktuatif. Konduktansi elektronik yang melonjak naik dan terkadang surut. Sel yang terkadang aktif, dan terkadang non aktif. Karakteristik elektronik yang bisa bergeser ke kiri dan ke kanan persis seperti goyang poco-poco. Ach, ingin berkerut rasanya hati ini ketika apa yang ditatap oleh sang mata tak kunjung jua membaik. Atau setidaknya terlihat agak logis dan masuk akal bagi pemenuhan kebutuhan otak.

Sejenak neuron-neuron di dalam kepala pun kian menjerit berdemonstrasi, bekerja keras, mungkin terlalu keras... terekspresikan melalui raut muka penuh kebingungan dan ketidaktahuan.

“Kenapa hasilnya bisa begini?”

Konsistensi. Dan juga kepastian.

Sebenarnya itulah dua hal yang paling dibutuhkan oleh seorang peneliti di dunia riset modern. Atau mungkin...untuk semua orang?

Bagaimana jadinya jika kita harus menjelaskan sesuatu yang masih penuh ketidakpastian. Laksana seorang pria yang menunggu jawaban cinta seorang wanita yang masih mengambang. Atau mahasiswa yang berharap-harap cemas menunggu hasil ujian akhir. Semuanya tidak pasti. Dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Terkadang aku iri pada Heisenberg.... Ketika teori ketidakpastiannya begitu tenar sampai saat ini di dunia fisika kuantum. Bahwasannya dia bilang posisi dan momentum, tidak bisa keduanya diketahui secara precise. Jika satu pasti maka yang lainnya tidak pasti. Wew.

Ketika ketidakpastian saja bisa menjadi basis teori yang sedemikian kokoh dalam dunia fisika, kenapakah tidak suatu hari nanti kita telurkan saja sebuah teori mekanisme reaksi penuh ketidakpastian ala Herry. Ya mana tahu saja bisa terkenal. :p

* * *

Ketidakpastian. Uncertainty. Awalnya sih aku gak habis pikir kenapa ya dunia ini penuh dengan sebuah aroma dan cita rasa yang bernama ketidakpastian. Bukannya nyebelin dengan apapun yang statusnya ga pasti? Karena ketidakpastian kan bisa menimbulkan gejala-gejala cemas, linglung, pikun, dan khawatir?

Tapi setelah dipikir, ditelaah, dan ditinjau ulang... ternyata kalo gak ada kata yang satu ini, bandar judi bola gak akan pernah bisa ngambil untung dong. Lah yang menang sama kalah kan uda pasti.

Kalo gak ada kata yang namanya ketidakpastian… yang namanya dunia riset itu uda bubar dari zaman nenek moyangku seorang pelaut dong. Ga ada lagi yang perlu dicariin kok.

Dan kalo ga ada ketidakpastian, ga pernah ada itu yang namanya legenda-legenda bersejarah macam Christoper Colombus menemukan benua Amerika. Atau Neil Amstrong mendarat ke bulan.

Karena semuanya kan berbasis dan berawal dari ketidakpastian. Ada orang-orang melakukan terobosan dan sampailah pada sebuah prestasi untuk “memastikan” sesuatu yang awalnya “tidak pasti”.

Ketidakpastian itu selalu ada, dan akan terus ada. Sampai ada pepatah yang mengatakan bahwa satu-satunya kepastian dalam dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Bahkan untuk ilmu yang disebut ilmu yang disebut “ilmu pasti” (eksakta) macam matematika, fisika, dan kimia, di dalamnya masih penuh ketidakpastian dan asumsi. Asumsikan gesekan diabaikan. Asumsikan x mendekati nol. Dan lain sebagainya. Nah kalau di dalam ilmu pasti pun masih ada asumsi, nah gimana jadinya dengan ilmu yang notabene “ga pasti” alias relatif.

Seperti mengutip ungkapan Daud.Y di tahun 2004 yang cukup menarik
Dalam mempelajari Fisika terlalu banyak asumsi, bagaimana kalau kita asumsikan bahwa tidak ada pelajaran fisika di kampus Nanyang? Sayang karena asumsinya tak pernah menjadi kenyataan… setidaknya sampai saat ini.

Ya kalau dipikir-pikir dan disimpulkan memang semua orang itu perlu kepastian. Kepastian adalah sebuah kebutuhan mutlak. Di samping papan, sandang, dan juga pangan. Seperti halnya peraturan itu ada untuk dilanggar, ketidakpastian itu ada memang untuk bisa dipastikan. Ya kalau mau disimplify, pekerjaan setiap orang itu toh hanya memastikan sesuatu yang tidak pasti. Engineer berusaha menyelesaikan masalah. Sesuatu yang tadinya tidak pasti, coba dipastikan. Hakim berusaha mencari kejelasan status dari tersangka, membuat keputusan untuk “memastikan”. Bebas? Atau terhukum. Sesuatu yang tadinya tak pasti, menjadi pasti.

Tapi toh setelah ngalor ngidul panjang lebar... siapakah saya ini yang pantas untuk berfilosofi macam-macam tentang masalah pasti dan tak pasti. Ngoceh ga karu-karuan mulai dari kisah Heisenberg, bandar judi, ilmu eksakta, sampai Christoper Colombus? Membuat teori ini dan itu yang kian rumit dan njilmet.

Sebagai ending saya cuma ingin menuliskan sebuah kutipan simple aja… saya ambil dari film Alexandria… Sesuatu yang berkaitan dengan topik ini. Antara kepastian dan ketidakpastian...
“ Kamu tahu kan gas, wanita itu kan butuh kepastian!!” kata Alex pada Bagas, laki-laki yang ga mau jujur untuk mengungkapkan perasaan sayangnya pada sang wanita pujaan (Alex).

Dan sesungguhnya aku cuma mau bilang
.
.
.

~HgS~
laki-laki juga butuh kepastian

Sunday, November 15, 2009

Sesuatu yang Berbeda

Hari ini hari Senin, dan saatnya untuk memulai hari-hari kerja. Aku tiba di lab pagi ini. Hmmm tidak terlalu pagi sebenarnya, cukup jam 10 lebih sedikit. Dengan badan yang sedikit agak tidak fit.

Sampai di lab. Terkejutlah aku. Tak ada seorang pun di dalam!! Aku nyalakan lampu, mengamati seisi lab dengan semua instrumen yang masih dalam off mode. Termasuk jua sang komputer.

Tak apa... Aku pun mulai bekerja.

Detik demi detik berlalu.

Menit demi menit berlalu.

Sampai akhirnya satu jam pun berlalu...

"Hi Herry, so hardworking ah?"

Suara itu... suara yang mendadak muncul dari belakangku. Ya aku kenal betul itu suara teman selabku.
" Why is there nobody here?"

Dan sebuah jawaban darinya... cukup untuk menjelaskan semuanya...
" Boss is on leave for 2 weeks "

Friday, November 13, 2009

Coz Teacher is also a Human

I don’t know why this thing is suddenly popped up in my mind. But this is one quote I really remember from one lecturer I consider as very good in my study in NTU… in his final lecture.

“Last week all of you have filled in for me the feedback form. I really thank you for very great comments you put on me. So I know that I can teach you well enough and I really appreciate it.”

“But before you go to the exam hall and hopefully you don’t meet me in this LT anymore next semester.... I just want to tell you one thing.”

“If you can consider me as a great teacher right now, I would like to tell you my secret… It is actually because I have a great teacher before me. I have learnt from him. And I followed him. That’s the keys to make me great. I really respect my great teacher.”

“Unfortunately, what I see from current students is a lack of respect to their teacher. Many students just want to get a good mark and that’s it. Many students just want to pass exam and that’s it. Their teacher is just someone or even worse… something to fulfill their need.”

“So if I can expect from you one thing right now”

“Respect your current teacher. Follow great people. And you can become great as well “


* * *

At that moment, I was not yet a teacher. I haven’t taught any class yet. I even don’t have any private students yet. I don’t have any single good training about teaching. And I really touched by this word. Respect to your teacher. Follow great people, and you can be great as well. Wow… amazing.

I still remember… how often I am… not satisfied enough with teacher standard? Cannot deliver the syllabus well, don’t really understand the curriculum, bad pronunciation, non-comphrehensive lecture notes, not enough practice questions, and many other things?

Ya I admit that last time I am one like to complain as well… sometimes. Fortunately not always. :p. And after I start to learn how to teach and face various types of students, I started to realize it’s really not that easy to deal with various people. That’s why teaching is like an art… rather than science. I may know many things inside my head. But how to tell it to people… is another matter.

So far, I have faced a very smart student or very “not so smart” student. I have faced a very talkative student or even very quiet one. I have faced a troublemaker type of student. I have faced a student gets bullied by classmates. And many things. It happens in my class and I think in a lot of classes in the world. And imagine if you are their teacher, what will you do?

* * *

I believe teaching is not a magic. It’s more about a relationship. And good relationship between teacher and student is the key to obtain a good learning process. It’s not just about the quality of the teaching. It’s not just about the way they talk. It’s not just about how entertaining your teacher is. It’s about whether you want to respect him... or not.

I believe every teacher got limitation, whatever it is. I also got limitation. I ahve a lot of limitation so that I still need to improve. Fortunately I can see some good senior teachers as my role model, those I can really learn to. I admire them and I really respect them. They are not perfect either, but I like them.

So now, I just wanna say... whatever types your teacher you have, please respect them. Although you may find some of them have a very bad and terrible quality in their teaching, or even you find that they even don’t have good intention or passion in teaching, still respect them. Please tell them in appropriate way. Remember. Teacher is also a human being same with you.

Complaining about them behind the scene won’t change anything.
Telling something bad about them won’t change anything.
Blackmail them also won’t change anything.

Believe me. Respect your teacher now and you will get respected later on in your life. Try to put positive word and mind in your head to subject you can’t really understand because of the lecturer. Your success most often starts with your mindset.

Stop complaining and start working.

And for the last thing… I just wanna say, do your best.

Happy exam friend.... Ganbatte… :-)