Fluktuatif. Konduktansi elektronik yang melonjak naik dan terkadang surut. Sel yang terkadang aktif, dan terkadang non aktif. Karakteristik elektronik yang bisa bergeser ke kiri dan ke kanan persis seperti goyang poco-poco. Ach, ingin berkerut rasanya hati ini ketika apa yang ditatap oleh sang mata tak kunjung jua membaik. Atau setidaknya terlihat agak logis dan masuk akal bagi pemenuhan kebutuhan otak.
Sejenak neuron-neuron di dalam kepala pun kian menjerit berdemonstrasi, bekerja keras, mungkin terlalu keras... terekspresikan melalui raut muka penuh kebingungan dan ketidaktahuan.
“Kenapa hasilnya bisa begini?” Konsistensi. Dan juga kepastian.
Sebenarnya itulah dua hal yang paling dibutuhkan oleh seorang peneliti di dunia riset modern. Atau mungkin...untuk semua orang?
Bagaimana jadinya jika kita harus menjelaskan sesuatu yang masih penuh ketidakpastian. Laksana seorang pria yang menunggu jawaban cinta seorang wanita yang masih mengambang. Atau mahasiswa yang berharap-harap cemas menunggu hasil ujian akhir. Semuanya tidak pasti. Dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Terkadang aku iri pada Heisenberg.... Ketika teori ketidakpastiannya begitu tenar sampai saat ini di dunia fisika kuantum. Bahwasannya dia bilang posisi dan momentum, tidak bisa keduanya diketahui secara precise. Jika satu pasti maka yang lainnya tidak pasti. Wew.
Ketika ketidakpastian saja bisa menjadi basis teori yang sedemikian kokoh dalam dunia fisika, kenapakah tidak suatu hari nanti kita telurkan saja sebuah teori mekanisme reaksi penuh ketidakpastian ala Herry. Ya mana tahu saja bisa terkenal. :p
* * *
Ketidakpastian. Uncertainty. Awalnya sih aku gak habis pikir kenapa ya dunia ini penuh dengan sebuah aroma dan cita rasa yang bernama ketidakpastian. Bukannya nyebelin dengan apapun yang statusnya ga pasti? Karena ketidakpastian kan bisa menimbulkan gejala-gejala cemas, linglung, pikun, dan khawatir?
Tapi setelah dipikir, ditelaah, dan ditinjau ulang... ternyata kalo gak ada kata yang satu ini, bandar judi bola gak akan pernah bisa ngambil untung dong. Lah yang menang sama kalah kan uda pasti.
Kalo gak ada kata yang namanya ketidakpastian… yang namanya dunia riset itu uda bubar dari zaman nenek moyangku seorang pelaut dong. Ga ada lagi yang perlu dicariin kok.
Dan kalo ga ada ketidakpastian, ga pernah ada itu yang namanya legenda-legenda bersejarah macam Christoper Colombus menemukan benua Amerika. Atau Neil Amstrong mendarat ke bulan.
Karena semuanya kan berbasis dan berawal dari ketidakpastian. Ada orang-orang melakukan terobosan dan sampailah pada sebuah prestasi untuk “memastikan” sesuatu yang awalnya “tidak pasti”.
Ketidakpastian itu selalu ada, dan akan terus ada. Sampai ada pepatah yang mengatakan bahwa satu-satunya kepastian dalam dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Bahkan untuk ilmu yang disebut ilmu yang disebut “ilmu pasti” (eksakta) macam matematika, fisika, dan kimia, di dalamnya masih penuh ketidakpastian dan asumsi. Asumsikan gesekan diabaikan. Asumsikan x mendekati nol. Dan lain sebagainya. Nah kalau di dalam ilmu pasti pun masih ada asumsi, nah gimana jadinya dengan ilmu yang notabene “ga pasti” alias relatif.
Seperti mengutip ungkapan Daud.Y di tahun 2004 yang cukup menarik
Dalam mempelajari Fisika terlalu banyak asumsi, bagaimana kalau kita asumsikan bahwa tidak ada pelajaran fisika di kampus Nanyang? Sayang karena asumsinya tak pernah menjadi kenyataan… setidaknya sampai saat ini.
Ya kalau dipikir-pikir dan disimpulkan memang semua orang itu perlu kepastian. Kepastian adalah sebuah kebutuhan mutlak. Di samping papan, sandang, dan juga pangan. Seperti halnya peraturan itu ada untuk dilanggar, ketidakpastian itu ada memang untuk bisa dipastikan. Ya kalau mau disimplify, pekerjaan setiap orang itu toh hanya memastikan sesuatu yang tidak pasti. Engineer berusaha menyelesaikan masalah. Sesuatu yang tadinya tidak pasti, coba dipastikan. Hakim berusaha mencari kejelasan status dari tersangka, membuat keputusan untuk “memastikan”. Bebas? Atau terhukum. Sesuatu yang tadinya tak pasti, menjadi pasti.
Tapi toh setelah ngalor ngidul panjang lebar... siapakah saya ini yang pantas untuk berfilosofi macam-macam tentang masalah pasti dan tak pasti. Ngoceh ga karu-karuan mulai dari kisah Heisenberg, bandar judi, ilmu eksakta, sampai Christoper Colombus? Membuat teori ini dan itu yang kian rumit dan njilmet.
Sebagai ending saya cuma ingin menuliskan sebuah kutipan simple aja… saya ambil dari film Alexandria… Sesuatu yang berkaitan dengan topik ini. Antara kepastian dan ketidakpastian...
“ Kamu tahu kan gas, wanita itu kan butuh kepastian!!” kata Alex pada Bagas, laki-laki yang ga mau jujur untuk mengungkapkan perasaan sayangnya pada sang wanita pujaan (Alex).
Dan sesungguhnya aku cuma mau bilang
.
.
.
~HgS~
laki-laki juga butuh kepastian