Sunday, December 14, 2014

Merancang Masa Depan

Menuju usia akhir 20-an. Sebuah transisi dari dewasa muda menjadi dewasa yang sesungguhnya. Ketika tanggung jawab semakin bertambah. Dan pertanyaan-pertanyaan kerap bergelimangan dari beraneka pihak... Kapan kawin? Kapan punya anak? Kapan anak yang kedua? Kok belum punya rumah? Dan lain sebagainya. Well....

Kemarin saya berbincang dengan seorang sahabat, membicarakan banyak teman-teman seangkatan kami yang kelihatannya sudah begitu "sukses". Tentu saja artian sukses disini adalah yang kasat mata. Si A yang sudah menjadi manager atau direktur di perusahaan ini dan itu. Si B yang sudah sukses merintis usaha yang mulai berjalan mapan. Si C yang sekarang sudah punya rumah, mobil, dan lain sebagainya. Sepertinya kok berbeda dengan kami yang saat ini pun masih mengontrak rumah kecil dan tinggal nomaden dengan keluarga kecil kami.

Apakah kami terhitung sukses? Jujur saja saya tidak tahu. Toh parameter dan standard sukses itu kan berbeda-beda. Jika tolok ukurnya adalah karir, jumlah tabungan, atau properti. Tentu saja kami tidak sesukses teman-teman yang kami deskripsikan di atas. Dan saya tidak menyesal untuk itu. Yang pastinya sih, saya cukup bahagia kok dengan keadaan saya saat ini. =)

Saya tidak memilih untuk menyalahkan harga properti yang melambung sehingga belum bisa terbeli dengan finansial saya saat ini. Saya juga tidak mau menyalahkan keputusan saya mengambil PhD yang sama saja dengan membuang 3 tahun waktu saya menapaki tangga karir. Saya tidak akan menyalahkan keputusan saya untuk banting setir dari dunia riset ke dunia pendidikan yang saat itu berarti mengurangi starting salary saya secara signifikan. Saya sudah menjalani itu semua keadaan itu. Terlepas dari apakah keputusan itu benar atau salah, toh saya telah banyak memetik pelajaran dari proses yang saya lalui.

Tapi jika pertanyaannya menyangkut masa depan, jujur saja itu adalah sebuah pertanyaan yang begitu sulit untuk saya jawab. Apakah saya ingin terus berada di negeri Singapura ini atau kembali ke tanah air atau mencari petualangan di tanah yang baru, saya sendiri belum sepenuhnya tahu. 

Mungkin memang benar perkataan banyak orang bahwa masa depan itu siapa yang tahu. Kalau kata teman-teman yang lebih religius sih... manusia boleh merancang, tapi kelak Tuhan juga yang menentukan. Masa depan itu memang penuh ketidakpastian. Tidak ada yang bilang bahwa perjalanan itu akan mudah. Tapi saya berharap bahwa semua akan baik-baik saja. 

Semoga.

What Do I Really Want?

Years passed by.

I don't really know why it's getting more difficult to define what I want in the beginning of the year. Do more sport? Maintain ideal weight? Happy marriage? Receive more money? Have kids? Well, to be honest... I don't really know.

I used to have an easy definition of what I want. Then when I really achieve it, I feel so common. It's like nothing so special. Is it really true that the older we are, the more difficult it is to be happy? I hope not.

2015 resolution? I hope I can get good inspiration to motivate me throughout the year.

Friday, December 12, 2014

Journey to Australia in Random Words

- We don't know why we always assemble on time or 5 mins earlier but most of the time we are the last two persons in the group arrive at the coach. Are we too slow or we are just not "kiasu" enough. :p

- Australia is a place where kid's meal is actually enough for two adults. And in some places, we find a potato is named as "chips" though it looks so big and tastes like tapioca.

- Bacon, sausage and scramble eggs for breakfast in 8 consecutive days is really unusual for us... :s

- Movie world and Dreamworld advertise a lot on their thrilling rides, which I believe it attracts a lot of tourists. However, since we love our heart so much; kids zone looks much more entertaining. And well, no matter how old you are, riding carousel is a must when you visit any theme park. There never any long queue in riding carousel anyway.

- Throughout all movie world character in the parade, I love Sylvester the cats the most. What he did during the parade is really cute and entertaining. =)

- I believe that level 77 is a little but too high for an acrophobic. Skywalk through a Yarra Valley is another thrilling moment. I still wonder I can pass through all those challenges.

- When wife is not around, at least wifi can be a temporary replacement.

- No matter where you go, there are people from a particular country who always speak so loud and break the rule. They jumped over a kangaroo fetch just to take picture though it's written clearly, no trespassing. A lot of other things are better not to be described here.

- Glow worm is actually not a worm. They are flies. Then why don't they call them glow flies? Maybe the name glow flies is not marketable enough.

- Fish market in Sydney is really amazing.... king crabs, lobster, various types of fish, etc. with a lot of restaurant business around. Yummy... Actually Indonesia has the same potential or even greater, I really hope they create something similar.

- Despite of the modernization in Sydney and Melbourne, the government still retain the authenticity of their historical building. They also put a large portion of garden in the middle of city. It's really a great city planning.

- Money changer in Sydney has charge fee and it makes the exchange rates not reasonable. =( Fortunately, the money exchange at Melbourne is more reasonable. The price of souvenir in Melbourne is also generally cheaper than Gold Coast or Sydney. Yeah, we are a type of tourist who really compare the price of typical souvenir in various places... :p

- Chinatown in Australia is not really a town. It's more suitable to be called China Street instead.

- It's interesting to meet someone you have never met before. After the KawalPemilu story, where I make a lot of new friends, I meet my friend from blog... which I actually knew more than 7 years ago but never have chance to meet before.

- And finally, the saddest moment of any holiday is the time to flight back to the real life.

Monday, December 1, 2014

Holiday is Coming


Hari ini hari terakhir saya bekerja sebelum besok acara kantor seharian dan lusa sudah cabut untuk “late honeymoon” selama 9 hari ke depan. Yeah holiday period is coming.

Honeymoon ini menang jadi honeymoon kami yang tertunda. Berhubung profesi saya sebagai guru; plus  waktu kami menikah sang istri belum begitu lama masuk di pekerjaan yang baru; jadi ya sudahlah, honeymoonnya ditunda jadi di akhir tahun saja.  Mundur 6 bulan dari waktu yang “seharusnya”

Dan benar saja. Mood kerja hari ini sudah sangatlah rendah. Lebih minat untuk mikirin liburan saja. Maklum, liburan kan memang lebih seru untuk dipikirkan daripada kerja. Baju sudah dipak, uang sudah tukar, hal remeh temeh sudah disiapkan. Okay, we are ready to go…

Australia, we are coming…… =)

Thursday, November 27, 2014

Tekanan Popularitas

Menjadi terkenal. Beberapa orang mungkin menginginkannya. Ya, sepertinya saya juga termasuk orang yang demikian. Dulu. Ketika masih muda. Saya suka untuk menjadi seorang yang populer dan menjadi pusat perhatian. Saya suka ketika saya didengarkan dan memberi pengaruh kepada orang lain. Ya, jujur saja saya suka dengan hal-hal semacam itu.

Sebenarnya tidak ada yang salah kok dengan menjadi terkenal. Yang jadi masalah adalah.... saya belum benar-benar tahu resikonya ketika saya menjadi seorang yang terkenal. Saya masih terlalu naif. Saya senang untuk menjadi populer, karena sepertinya menjadi populer itu seru, asyik, dan menyenangkan.

Dan perlahan banyak situasi hidup memberikan saya pelajaran berarti. Dalam hidup ini, orang bisa menyukaimu, orang bisa juga membencimu. Dalam perjalanan saya menjalani hidup, saya sudah menemukan orang-orang yang berada di sisi saya dan memberikan dukungan, maupun orang-orang yang berusaha menekan dan menghancurkan saya. Itu sangat wajar. Dan itu sangat biasa. Dan ketika kamu menjadi terkenal, itu berarti... kamu menambah jumlah orang-orang yang menyukaimu, sekaligus yang membenci kamu.... secara masif.

Setiap langkah kecil hidupmu akan menjadi perhatian orang. Setiap kata yang kamu keluarkan. Setiap bahasa tubuh yang kamu ekspresikan. Semua hal-hal yang tadinya remeh temeh pun bisa menjadi gunjingan orang. Dan hal-hal semacam itu tidak selamanya menyenangkan. Karena ada kalanya kamu ingin sendiri. Menjauh dari glamour dan popularitas duniawi dan memperoleh ketenangan. Ada kalanya kamu ingin memberikan sepenuh perhatian dan waktumu untuk orang-orang terdekatmu yang membuatmu bahagia.

Kini saya memilih.... untuk tidak perlu lagi terlalu mengejar popularitas itu. Orang akan otomatis mengenalmu, dan menyukaimu... jika kamu memberikan nilai tambah bagi hidup mereka. Jika kamu mengisi hidup mereka dengan senyuman ataupun kebahagiaan. Jika kamu melakukan hal-hal yang terbaik yang dipercayakan kepadamu.

Saya tidak perlu bernafsu untuk mengejar kesempatan berbicara di hadapan orang banyak. Kesempatan itu bahkan datang dengan sendirinya, ketika kamu setia melakukan pekerjaanmu pada perkara-perkara yang lebih kecil. Apalah arti menjadi populer berlebih, jika itu memang belum saatnya? Apa saya sanggup untuk menghadapi tekanan yang begitu besar itu?

Saya hanya ingin menjalani hidup ini, sewajarnya. Berusaha yang terbaik. Dan menyerahkan sisanya pada yang kuasa.

Thursday, November 20, 2014

Prinsip

Jika tidak ada seorang pun yang merasa terusik dengan keberadaanmu, mungkin kamu tidak melakukan sesuatu yang cukup penting. Alasannya sederhana. Karena pada dasarnya, setiap orang akan bereaksi terhadap sesuatu yang mereka anggap penting.

* * *

Kalaupun suatu ketika kamu tidak memiliki apa-apa yang bisa kamu banggakan, ingatlah bahwa sesungguhnya integritasmu adalah sebuah kemewahan.

* * *

Ada kalanya kamu tidak bisa menggantikan harga sebuah kebahagiaan dengan materi, berapapun nilainya.

* * *

Pada dasarnya, orang tidak menyukai perubahan. Karena itulah orang yang bisa membuat perubahan selalu lebih maju.

Tuesday, November 18, 2014

Bercanda

Di sebuah hari yang cerah, tanpa angin hujan maupun badai, sebuah surat dari perusahaan sampai ke tangan saya... Disampaikan oleh seorang kolega.

" Her ada surat untukmu."
" Hah surat apa?"
" Ga tahu juga. Confidential katanya "
" Oooh ok"

Hmmm surat. Ada apakah gerangan?

Saya pun membukanya perlahan. Dan tertulis sebuah judul yang dibold besar-besar bertuliskan
.
.
.
.
PROMOTION LETTER...... (Cieeee)

Beginilah isinya

Kami puas dengan performa dan komitmen kamu sejauh ini dan kami mengharapkan kamu mempertahankan dan bahkan meningkatkan prestasi kamu lebih jauh lagi. Ach...

Melalui surat ini kami menyatakan bahwa jabatan kamu saat ini dinaikkan jadi Senior Teacher. (Wah senior kedengerennya kayak keren gitu). Tapi saya masih bertanya-tanya, emang senior teacher itu kerjaannya ngapain? Saya bahkan baru tahu kalo selama ini saya dianggap junior? (-_-)"

Setelah basa-basi yang cukup panjang, tertulislah di bawah maksud dan tujuan sesungguhnya...

Term dan condition akan sama seperti sebelumnya tertera di kontrak tapi notice period kamu diperpanjang jadi 3 bulan. (-__-)"

Apa ini? Promosi sih promosi, tapi ga ada untungnya gitu.

Dan di bagian bawahnya pun tertulis....

Tolong tanda tangan di bawah ini untuk menyetujui perubahan tersebut. Kami lampirkan satu copy untukmu sebagai referensi.

Hmmm, yah saya kira sih mungkin mereka cuma mau "bercanda".


Herry
menolak dipromosi.... :p