Friday, April 11, 2014

Menjadi Problem Solver

“ Itu sulit.”
“ Saingannya terlalu berat. “
“ Kamu tidak cukup mampu untuk itu. “
“ Kamu pasti gagal “

Seandainya saja sejak dulu saya selalu mendengarkan orang-orang lain yang berpikiran bahwa sesuatu itu tidak mungkin, mungkin saya sudah terus-terusan gagal dalam hidup saya. Hidup begitu-begitu saja. Biasa saja. Tidak ada yang istimewa.

Ketika saya masih anak-anak, saya orang yang terhitung lambat dalam berbicara, tak pandai bergaul, dan lemah dalam matematika dasar. Terbukti dari nilai rapor saya semasa TK yang dijejali dengan nilai C dan K. Jika saja kelas TK itu bisa tinggal kelas, mungkin saya salah satu yang akan mengalaminya.

Tidak ada yang pernah mengira bahwa anak yang satu ini pada akhirnya bisa memperoleh gelar S3 pada usia yang relatively muda, 24 tahun. Saya jenius? Sepertinya tidak. IQ saya memang sedikit di atas rata-rata tapi tidak sampai berada pada level sangat cerdas, apalagi jenius.

Kalaupun ada keberuntungan yang menaungi kehidupan saya, itu adalah keberadaan orang tua saya yang menanamkan nilai-nilai dan semangat juang sejak saya kecil. Saya diajar untuk memilih tidak terlalu mempercayai hal-hal negatif yang dikatakan orang lain terhadap diri saya. Memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Memilih untuk menghadapi tantangan, seberapa sulitnya itu. Dan perlahan saya mengerti. Itu memang benar adanya.

***

Sebenarnya sangat wajar bahwa setiap manusia ingin berada dalam zona nyaman. Sangat wajar bahwa setiap manusia memiliki ketakutan untuk sesuatu yang baru, yang penuh ketidakpastian. Sangat wajar untuk berada dalam tekanan untuk mengalami sebuah perubahan. Yang jadi masalah adalah, dalam kondisi demikian, apakah kamu memilih untuk menghadapi atau menghindarinya?

Saya tertarik dengan teori yang dikemukakan oleh Arnold Toynbee tentang Challenge and Response. Bahwasannya perubahan dalam kehidupan manusia itu muncul karena keharusan mereka menghadapi kesulitan. Dan pada akhirnya, memang kesulitan-kesulitan itulah yang menjadikan manusia lebih kuat.

Robert Kiyosaki di sisi lain memberikan ilustrasi dalam hal investasi dan keuangan. Seperti seorang ahli matematika yang baru akan menjadi hebat dengan berlatih mengerjakan soal-soal matematika, bukan dengan mengamati orang lain mengerjakan soal matematika untuknya, demikian juga bahwa kamu akan bisa mengatasi masalah-masalah keuangan dengan mengisi otakmu dengan pengetahuan-pengetahuan tentang investasi dan keuangan. Bukan dengan menyerahkan uangmu untuk dikelola oleh orang lain yang menamakan diri mereka “expertise”.

Kesemuanya itu bermuara pada satu kesimpulan. Bahwa pada akhirnya dalam hal apapun itu; kamu menjadi kuat ketika kamu memecahkan masalah, bukan dengan menghindarinya. Hadapilah masalahmu, dan kamu akan menjadi lebih kuat karenanya.

* * *

Hidup ini keras, penuh dengan intrik, dan juga masalah. Karena itulah orang yang dibutuhkan dalam masyarakat adalah orang yang mampu memecahkan masalah. Tapi bagaimana mungkin kamu bisa mahir memecahkan masalah jika kamu senantiasa menghindarinya?

Izinkan dirimu menghadapi masalahmu. Janganlah takut membuat kesalahan, apalagi menghadapi kekalahan. Jangan takut untuk gagal. Karena itu semua adalah bagian dari proses untuk berkembang.

Pertanyaannya bukan mampukah kamu menjadi pemecah masalah? Tapi maukah kamu untuk terus belajar? Maukah kamu untuk tidak menyerah?

Hanya kamu sendiri yang tahu jawabannya.


Putuskanlah, sebelum semuanya terlambat.

Sunday, March 30, 2014

Pemilu

Pemilu kini tinggal dalam hitungan hari. Katanya orang-orang sih, pilihan saya menentukan masa depan bangsa. Tapi toh nyatanya saya belum memutuskan siapa yang ingin saya pilih. Istilahnya, saya ini masih ragu, masih jadi swing voters kalau dalam istilah demokrasi. Dan saya cukup percaya bahwa saya tidak sendirian. Sejauh ini belum ada caleg yang rekam jejaknya cukup membuat saya terkesan, dan membuat saya ingin memilih mereka.

Semua caleg mengaku diri mereka bersih, punya visi dan misi yang jelas, memperjuangkan suara rakyat, dan sejenisnya.

Rakyat yang mana? Saya juga tidak tahu. Tapi mungkin saja, bukan termasuk rakyat seperti saya. Karena membaca aneka visi dan misi, tak ada satu pun yang membuat saya benar-benar sreg karenanya.

Kalaupun saya boleh beraspirasi, sebenarnya saya paling concern terhadap dunia pendidikan di tanah air. Tapi rasa-rasanya orang-orang yang punya concern seperti saya tidaklah banyak sehingga bagi para caleg, itu mungkin bukan lahan yang terlalu subur untuk meraup suara. Biar gimana-gimana, kan mereka perlu "strategi" pemenangan suara. He he he.... :p

Saya tidak bermaksud untuk  mengiklankan atau mendiskreditkan caleg manapun, karena nyatanya saya tidak pernah merasa terlalu kenal dengan mereka semua.

Jadi jika kamu tanyakan pada saya siapa yang akan saya pilih?

Entahlah. Sampai tulisan ini diposting, saya juga masih belum menemukan jawabannya.

Thursday, March 27, 2014

Loyalitas

Untuk urusan pekerjaan, mungkin saya bukanlah orang yang terhitung sangat loyal. Saya memang bukan kutu loncat yang hanya bertahan beberapa bulan di sebuah perusahaan. Saya senantiasa bertahan dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun. Namun tetap saja, saya akan selalu membuka peluang untuk berpindah ke tempat lain, sekiranya saja ada tawaran yang lebih menarik. Dan sekiranya saja pekerjaan saya mulai kehilangan nuansa dinamisnya.

Jika saya menganggap PhD sebagai sebuah pekerjaan, maka saya berada disana selama 3 tahun, sudah terhitung jauh lebih pendek dibanding PhD lain pada umumnya.

Pekerjaan tetap pertama saya pun saya jalani selama 1 tahun dan 9 bulan sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berpindah dan mencari tantangan baru di tempat lain.

Pekerjaan yang ini? Saya memperkirakan mungkin saja paling lama sekitar 3 tahun sebelum akhirnya tiba waktu saya untuk nantinya mencari petualangan baru. Kelak. Entahlah. Saya belum membuat keputusan apa-apa.

Sebenarnya tidak ada masalah. Saya hanya perlu sebuah perubahan yang mudah-mudahan saja menjadikan saya lebih baik dari sebelumnya.

Semoga. =)

Sunday, March 9, 2014

Fokus

Apakah fokus utama dalam hidupmu?

Apakah mengejar kekayaan? Mengejar posisi? Mengejar ketenaran? Jika itu ditanyakan kepada saya saat ini, jujur saja saya tidak tahu. Saya tidak terlalu muluk-muluk mengatakan bahwa saya telah mengutamakan Tuhan di dalam hidup saya. Rasa-rasanya, belumlah demikian.... :-(

Saya berusaha melakukan yang terbaik, berusaha membahagiakan orang-orang yang saya cintai. Dan berusaha mencari kebahagiaan yang sejati.

Secara personal, saya berkecukupan. Saya menikah, memiliki pasangan yang menyayangi saya. Keluarga yang harmonis. Saya juga memiliki hubungan yang baik dengan kebanyakan orang. Paling tidak, saya bukanlah figur yang dibenci publik. Saya cukup dihormati oleh orang lain.

Secara finansial, saya sudah berkecukupan. Punya penghasilan yang cukup, meskipun tidak berkelimpahan. Cukup untuk kehidupan setiap bulan, dengan sejumlah tabungan. Ya segalanya nampak baik-baik saja.

Kemanakah harus saya fokuskan kehidupan saya selanjutnya? Mengekspos diri lebih jauh dan berusaha menjejak ke ranah publik? Mengejar mimpi-mimpi saya ketika masih muda yang belum sempat saya capai?

Entahlah.

Mungkin saya hanya tidak bisa berpikir terlalu berat untuk saat ini.


~HgS~
masa transisi belum selesai

Sunday, March 2, 2014

Berkat

Ketika kamu tetap berlaku jujur dan berusaha melakukan pekerjaanmu semaksimal mungkin. Toh pada akhirnya, akan ada saja orang yang datang memberkati dirimu. =)

Tanpa angin dan tanpa hujan, tiba-tiba saja ada orang yang bersedia menawari saya memberikan modal untuk membuka usaha sendiri. Usaha di bidang edukasi, bidang yang selama ini saya geluti. Namun dengan halus, saya pun berusaha menolaknya. Sepertinya untuk saat ini sih... belum saatnya untuk mengambil resiko sebesar itu. Akan ada waktunya kelak bagi saya untuk berwiraswasta.

Tanpa banyak mencari pun, istri saya tahu-tahu ditawari pekerjaan di tempat dia bekerja volunteering. Gaji memang tidak seberapa signifikan, tapi tidak buruk juga untuk hitungan pemula di tanah Singapura ini.

Dua bulan berlalu semenjak kehidupan kami di negeri baru ini. Masa transisi bagi kami perlahan telah terlewati. Semuanya baik-baik saja. Semoga saja tetap demikian adanya. :-)

Menunggu kejutan-kejutan berikutnya.

Wednesday, February 26, 2014

Sukses

Terkadang, ketika saya melihat pada teman-teman yang dulunya satu kampus, saya kagum. Kagum juga dengan kemajuan yang telah mereka capai dalam hidup.

Ada yang sudah menjadi calon kuat anggota DPR, ada yang sudah menjadi dekan di Indonesia, ada yang sudah menggapai sukses di negeri Singapura ini. Ada yang sudah membuka wirausaha yang sudah berkembang. Menapak jenjang karir dengan cepat dan memiliki banyak sekali hal.

Saya tidak tahu bagaimana kamu menilai sebuah sukses. Entah itu materi. Entah itu kuasa. Gelar. Atau apapun. Bagi saya secara personal, saya melihat seorang sukses adalah orang-orang yang mampu memberikan impact bagi sekelilingnya. Dalam bentuk apapun itu. Terkesan terlalu filosofis? Mungkin. :p

Dan yang terlebih penting. Seorang sukses itu adalah dia yang mampu mengucap syukur dengan apa yang mereka miliki.

Apakah saya seorang sukses? Yah mudah-mudahan saja demikian. Terserah bagaimana kamu menilainya. Paling tidak yah kalo saya harus menilai, saya cukup bahagia dengan apa yang saya miliki saat ini. Tanpa perlu membandingkannya dengan siapapun. =)

Tuesday, February 25, 2014

De Javu

Pekerjaan di perusahaan pertama

- Memulai dengan tidak seberapa mulus karena mesti beradaptasi dengan sistem mengajar yang baru,  perubahan di sana-sini yang menyebabkan beberapa clients tidak seberapa puas.
- Perlahan beradaptasi dan mulai berfungsi efektif dalam tim.
- Mendapat kepercayaan untuk menangani multiple subjects dan level demi mengurangi cost perusahaan. Kelas bercampur aduk. Meski di sisi lain, keuntungan perusahaan mulai meningkat.
- Foto saya dijadikan front cover majalah yang diterbitkan perusahaan.
- Hasil pekerjaan yang cepat dan cukup lumayan, membuat banyak kepercayaan diberikan pada saya.
- Pekerjaan semakin bertumpuk dan tidak karu-karuan. Gaji tetap belum naik.
- Memilih resign dan berpindah ke tempat pekerjaan yang baru setelah bekerja disini selama 1 tahun 9 bulan.


Pekerjaan di perusahaan kedua

- Dijanjikan suasana yang berbeda dibanding perusahaan pertama. Tidak akan ada mutiple subjects, teamwork yang dijanjikan lebih baik.
- Memulai dengan tidak seberapa mulus karena mesti beradaptasi dengan suasana baru, murid-murid yang baru, perubahan di sana-sini yang menyebabkan beberapa clients tidak seberapa puas.
- Perlahan beradaptasi dan mulai berfungsi efektif dalam tim.
- Kembali mendapat kepercayaan untuk menangani multiple subjects. Bahkan lebih bervariasi dibanding sebelumnya.
- Hasil pekerjaan yang cepat dan cukup lumayan, membuat banyak kepercayaan diletakkan. Akan ada buku terbitan perusahaan yang akan direlease dengan saya menjadi first author.
- Foto saya dijadikan cover brosur yang diterbitkan perusahaan.
- Anyway, sejauh ini saya sudah berada 1 tahun 2 bulan di perusahaan ini. Dan well, gaji belum naik... :p Meski di sisi lain memang jam kerja dan sistem reward masih lebih mending dibanding perusahaan pertama.

Bagaimanakah kelanjutan kisah ini kelak? Entahlah.