Sunday, March 29, 2015

What Does Lee Kuan Yew Mean to Me?

If not because of him, I may not come to this country, 11 years ago.

* * *

Well, life is mysterious. Life is unpredictable.

When I was a teenager, I never really expected to study and work overseas. Everything was quite fine in my home country. I had a lot of friends. I had a nice environment. I didn't really have a desire to study in any overseas university. Yes, I have observing some overseas university during education fair in my high school, but that's all. I never put any action because I never really thought of step out my comfort zone.

Why? Language was always my biggest problem. Despite my good grade in mathematics and sciences, I am not that talented in learning and speaking a foreign language. I am not confident in TOEFL, SAT, IELTS, and any other tests. If I really took it, I am pretty sure my language result is not that excellent. I have difficulties expressing my idea in English. If I stay overseas, can I survive? Can I even finish my study? I am normally quite confident in many things but I always have that fear in my life.

And what make it worse. Like a typical of blurry teenager, I didn't really know what I want. I didn't know what course I should take, in which university. I got accepted in some local university without taking tests. But finally I still applied to NTU because of a very simple reason. Many of my friends applied for it also. And to make the story short, I was accepted.

I didn't really know much about NTU and Singapore at that time. I didn't really make a lot of research on it. From what I heard, it was a fine, nice, and neat country as compared to my hometown. And I can receive a good education here. So why not? I decided to take the offer and started my journey.

I started my life as a young, blurr, childish 17 year-old boy in a foreign country. Slowly when I adapt to the culture of this country, I start to know more about this country, how she was started and how she can become this successful in relatively short period of time. How she was transformed from a third world country to be a first world country. How this country can have a clean government, an excellent transport system, comfortable and conducive environment. As compared to... erm, Jakarta.

A lot of value is learnt in my life here. Hardworking, passion, integrity. I need to admit that life in this country is tough. Life is full of competition. Everywhere. In everything. And I believe it was one factor which make this country grow very fast.

And well....

When I look back, I really thank God for the opportunity to be here, to learn all those stuff when I am still very young. I have been 11 years here and I love this country. This country is not perfect. No country is. But I have spent 1/3 of my life here and I have no regret about it.

Lee Kuan Yew has given his life and built this country to this great. Singaporeans are very lucky to have him in their country.

I never really met him in person, but I really feel his impact. He is a great person. A great leader. I really wish that my country also have such a strong and dedicated leader like him.

I hope.

In the end of the day, I want to say, thank you Mr Lee Kuan Yew for all your dedication in your life.

Wednesday, March 25, 2015

Workload and Time

If you can finish a work within one week for the thing someone else cannot finish in one year, I believe the problem is not about the competency. It is about the desire and motivation. Maybe it's just because the heart and mind is not focused there.

I never believe that someone is too busy, unless if you are a prime minister or president of a country.  I just believe that nobody is too busy for something they think is important.

Sunday, March 15, 2015

Esensial vs Trivial

Dulu sewaktu SMA, saya pernah mengikuti lomba bedah buku. Ketika saya sampai di babak final dan kemudian penyerahan hadiah, ada satu kata sambutan singkat yang disampaikan saat itu yang bagi saya sangat berkesan. Ya kalau tidak berkesan bagaimana mungkin saya masih ingat. :p

" Dalam hidup ini, kamu harus bisa memilah milah mana yang penting, kurang penting, dan yang tidak penting."

Sebenarnya ini cuma hal yang terkesan sederhana. Tentang sesuatu yang disebut prioritas. Tentang value system. Yang pada akhirnya toh akan menentukan siapakah kamu dan bagaimanakah jalan hidupmu.

* * *

Mengamati kisruh terbaru di tanah air tentang Ahok vs DPRD, tampak jelas perbedaan penekanan dari kedua pihak yang berseteru. Yang satu menekankan pada hal-hal esensial seperti penghematan dan efisiensi anggaran, pencegahan korupsi, dan reformasi dari sistem yang ada menuju sesuatu yang lebih baik. Sementara pihak lain menekankan pada hal-hal trivial, semacam mekanisme, pengaturan ini dan itu secara birokrasi yang njelimet, dan belakangan dibumbui tuduhan yang melebar kemana-mana. Yang sepertinya punya satu tujuan, asal pihak sana kelihatan salah juga lah. Apapun alasannya.

Ya sebenarnya sih namanya manusia kamu cari-cari aja kesalahannya pasti bisa ketemu kok... :p

* * *

Kisruh semacam ini sebenarnya bukanlah hal baru bagi saya.

Ketika saya ingin menekankan hal-hal esensial yang berkenaan dengan integritas riset, kejujuran angaran, dan tanggung jawab pekerjaan, saya pun terpaksa berbentrokan dengan atasan saya yang tidak mengganggap itu sebagai sesuatu yang penting.

Dan jadilah hal-hal yang sebenarnya trivia dianggap menjadi hal besar.

Dan alhasil, segalanya pun menjadi chaos.

* * *

Banyak kejadian lain sebenarnya yang membuat saya belajar, bahwasannya seorang yang kecil biasanya cenderung berpikir pada hal-hal yang kecil tanpa mampu melihat kepentingan dan makna yang lebih besar. Sedangkan seorang yang berpikiran besar, mampu melihat hal-hal yang jauh lebih besar.

Saya masih ingin terus belajar. Mencoba memilah kepentingan. Berusaha berpikir hal-hal yang esensial. Dan mengurangi fokus pada hal-hal trivial.

Ya semoga saja... bisa.... =)

Tuesday, March 10, 2015

Secercah Perhatian Itu

“ Ok, bagaimana perkembangannya kalian semua? Kalian benar-benar bekerja keras ya sampai malam begini. Ok lah gimana kalau kita makan sejenak lalu saya antar kalian semua pulang. ”

Bukannya kenapa-kenapa, kami bertiga saat itu sedang bekerja di sebuah institut riset yang terletak di pusat kota Singapura. Satu dari kami tinggal di ujung timur Singapura sedangkan dua sisanya di ujung barat. Bukan suatu hal sederhana tentunya mengantarkan kami bertiga pulang ke rumah kami masing-masing. Bagi saya secara personal, itu adalah sebuah pengorbanan yang luar biasa.

Bukannya kenapa-kenapa. Waktu itu saya hanya seorang mahasiswa tingkat akhir. Bukan seseorang yang punya peranan penting apalagi signifikan. Bukan seseorang yang perlu diperlakukan secara istimewa. Tapi saat itulah saya merasa dimanusiakan secara seutuhnya oleh seorang atasan.

Saya pun berpikir. Mungkin dalam bekerja, tidaklah harus kita memperoleh bayaran tinggi. Atau bonus yang sedemikian istimewa. Cukup sebuah perhatian kecil. Yang membuat kamu merasa dihargai. Sebagai manusia.

Waktu berjalan perlahan. Dan saya pun sudah memiliki beraneka ragam atasan. Ada yang baik. Ada yang kurang baik. Ada yang luar biasa jahat. Sebagaimana wajarnya manusia pada umumnya. Dan saya selalu mengingat boss saya di masa skripsi saya itu.

I wish I could meet him and just have a little bit chit chat. Coz he is such a nice person. For such a blurry beginner researcher like me at that point of time.

Monday, March 9, 2015

KPK

Tentang relationship
Level 1: "Kapan Punya Kekasih?"
Level 2: "Kapan Plan Kawin?"
Level 3: "Kapan Punya Kid?"

Tentang karir
Level 1: "Kapan Punya Kerja?"
Level 2: "Kapan Pindah Kerja?"
Level 3: "Kapan Pensiun Kerja?"

Dalam percakapan dengan saudara atau teman lama, selalu yang ditanyakan ya itu-itu saja. Kuliah, kerja, pacar, istri, ataupun anak. Pertanyaan-pertanyaan mainstream yang sebenarnya belum tentu juga ringan juga untuk dijawab.

Mau coba sesuatu yang berbeda biar ga terkesan mainstream. Ini beberapa contohnya....

"Gimana perkembangan terakhir tentang misi kamu menyelamatkan dunia?"

"Eh gimana perjalanan km keliling dunia? Uda nemuin benua baru belum?"

"Pssst... sekarang aku sudah tahu loh apa yang sebenarnya diinginkan oleh seorang wanita."

"Tahu ga, kulit durian sekarang ada ekstraknya."

"Gimana ya cara kita bisa membiakkan sapi tanpa sapi jantan dan sapi betina?"

Dan masih banyak lagi.... =)

Monday, March 2, 2015

Memaknai Pendidikan

Banyak orang berpendapat bahwa pendidikan tinggi akan menjamin  kehidupan yang lebih baik.
Apakah benar?

Tidak sepenuhnya tepat pastinya, karena akan dengan mudah kita berargumen bahwa si A tidak berpendidikan tinggi kok namun tetap bisa meraih sukses. Atau si B yang punya pendidikan tinggi namun kehidupannya begitu-begitu saja bahkan mungkin cenderung menyedihkan.

Tapi kalaupun pendidikan tidak berpengaruh, kenapa juga begitu banyak orang berlomba-lomba mencari dan pendapatkan pendidikan yang baik, bahkan mengorbankan banyak hal, demi hal yang satu itu? Jawabannya jelas. Pendidikan tentu punya pengaruh, pengaruh yang signifikan, meski mungkin bukanlah satu-satunya faktor.

* * *

Bagi saya, arah dan jalan hidup itu punya begitu banyak faktor yang berkorelasi satu sama lain. Terlalu rumit dan seringkali terlalu sulit untuk dikaitkan satu sama lain. Talenta, prinsip hidup, karakter, integritas, dan tentunya juga... keberuntungan. Semua berinteraksi menjadi satu dan membawa kehidupan seseorang ke sebuah arah. Yang lebih baik. Ataupun yang kurang begitu baik.

Pendidikan bagi saya adalah suatu cara untuk mengarahkan parameter-parameter di atas ke arah kehidupan yang lebih mudah. Melalui pendidikan, orang mengenal dan mengasah makna perjuangan, makna kerja keras, makna bekerjasama dalam tim, makna karakter, dan juga hal-hal lainnya. Dan melalui pendidikan pula, orang mungkin akan bisa lebih "beruntung" untuk memulai dengan karir awal yang lebih baik. Dan mungkin melalui pendidikan pula, orang-orang bisa menemukan koneksi yang membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik.

Saya melihat banyak keluarga yang merangkak naik kelas sosial melalui pendidikan, dan juga keluarga yang tidak begitu sukses karena terlalu menganggap enteng pendidikan.

Sudah 4 tahun berada dalam dunia pendidikan secara full time. Belum begitu lama mungkin, namun sedikit banyak saya mulai mengenal tentang seluk beluk dan baik buruknya dunia yang satu ini. Dari segi sistem, kurikulum, pembuat aturan, bisnis, dan lain sebagainya.

Memang tidak ada satu pun sistem di dunia ini yang sempurna. Tapi kalau saya disuruh memilih, kelak saya masih lebih ingin memberikan modal pendidikan bagi anak-anak saya. Baik secara akademik, dan tentunya juga.... tentang kehidupan.

Sunday, February 15, 2015

Techers' Valentine

" Valentine tahun ini kemana Her?"
" Kerja"
" :p"

Sedih ya kedengarannya. Tapi yah memang begitulah. Apalagi Valentine justru hadir di hari Sabtu, hari dimana saya menjalani kesibukan maksimum. Istri saya pun bekerja di hari yang sama. Valentine pun menjadi tidak berbeda dengan Sabtu lainnya.

Mungkin fakta bahwa kami adalah pasangan pengajar, kami jadi tidak serta merta merayakan hari Valentine dengan saling memberikan coklat maupun bunga. Ya saya setuju bahwa membeli coklat dan bunga itu memang ungkapan kasih sayang. Tapi kenapa harus dilakukan di saat harga sedang melonjak tinggi hanya demi mengikuti trend? :p

Dan memberi coklat dan bunga di V day kok kesannya mainstream banget. Ga surprising. Ga istimewa. Ga asik. Pasaran. Dan itu bukan saya banget....

* * *

Terus apakah kamu tidak merayakan Valentine demi memberikan contoh baik pada anak didik? Ach itu apalagi. Saya sih tidak berada di kubu yang katanya sih lagi ramai-ramai menolak perayaan hari Valentine. Kalau memang ada yang mau merayakan memang kenapa? Bagus juga kan memberi kesempatan bisnis bagi banyak orang dalam sekali setahun.

Bagi saya, Valentine adalah hari kasih sayang. Dan kasih sayang itu sifatnya universal.

Kasih sayang kepada orang tua. Kasih sayang kepada saudara. Kasih sayang kepada teman sekerja. Kasih sayang kepada murid-murid kami. Kasih sayang kepada semua orang.

Karena sesungguhnya kasih sayang itu bukan semata-mata berasal dari coklat maupun bunga

Ia muncul dari hal-hal sederhana

Setiap harinya...